Page 289 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 289
termasuk penggunaan aplikasi navigasi, sistem pemesanan digital, dan
potensi transisi menuju kendaraan ramah lingkungan seperti motor listrik.
Dengan demikian, distribusi usia responden mencerminkan potensi
besar untuk transformasi transportasi rendah karbon. Kelompok usia
produktif tidak hanya menjadi sumber utama aktivitas transportasi daring,
tetapi juga menjadi sasaran strategis program edukasi dan konversi
kendaraan listrik yang dapat menekan emisi karbon di perkotaan Jakarta,
Depok dan Bogor.
4.1.2 Jenis Kelamin Responden
Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (57%), sedangkan
perempuan berjumlah 43%. Hal ini mengindikasikan bahwa pekerjaan
sebagai pengemudi transportasi daring masih didominasi oleh laki-laki.
Tabel 9. Distribusi Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki-laki 229 57
Perempuan 171 43
Total 400 100
Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada tabel 9, diperoleh bahwa
responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 229 orang (57%),
sedangkan perempuan sebanyak 171 orang (43%) dari total 400
responden. Hasil ini menunjukkan bahwa profesi sebagai pengemudi
transportasi online masih didominasi oleh laki-laki, meskipun partisipasi
perempuan menunjukkan tren peningkatan seiring berkembangnya
ekonomi digital dan peluang kerja fleksibel di sektor daring.
Dominasi laki-laki dalam pekerjaan transportasi daring sejalan
dengan penelitian Yuliana dan Pratama (2021) yang menemukan bahwa
laki-laki lebih banyak bekerja sebagai pengemudi transportasi online
karena pekerjaan ini menuntut mobilitas tinggi, ketahanan fisik, serta
kesiapan menghadapi risiko lalu lintas perkotaan. Dalam konteks teori
peran gender (Connell, 2009), struktur sosial di Indonesia masih
memosisikan laki-laki sebagai pihak yang lebih terlibat dalam pekerjaan
berbasis lapangan dan aktivitas mobilitas tinggi.
Dari perspektif emisi karbon perkotaan, dominasi pengemudi laki-laki
berimplikasi langsung terhadap intensitas perjalanan dan tingkat konsumsi
bahan bakar. Studi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK, 2023) menunjukkan bahwa emisi karbon dari sektor transportasi di
kota besar didominasi oleh kendaraan yang dikendarai dalam durasi
panjang setiap hari, terutama oleh pekerja laki-laki dengan jam
operasional tinggi. Hal ini berarti kelompok pengemudi laki-laki
berkontribusi lebih besar terhadap total emisi CO₂ dibandingkan kelompok
perempuan, yang umumnya memiliki durasi dan frekuensi perjalanan lebih
terbatas.
Selain itu, menurut World Bank (2022), terdapat korelasi antara
gender, pola kerja, dan perilaku berkendara terhadap dampak lingkungan.
Pengemudi laki-laki cenderung memiliki waktu operasi lebih lama dan
menggunakan kendaraan dengan kapasitas mesin lebih besar, yang
berpotensi menghasilkan emisi CO₂ lebih tinggi per kilometer
21

