Page 292 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 292
4.1.5 Estimasi Emisi Karbon (Carbon Emission Estimation)
Estimasi emisi karbon merupakan perhitungan jumlah gas karbon
dioksida (CO₂) yang dihasilkan dari aktivitas pembakaran bahan bakar
fosil, seperti bensin atau solar, dalam sistem transportasi. Emisi karbon
dinyatakan dalam satuan gram atau kilogram CO₂ per kilometer (g/km
atau kg/km) yang menggambarkan intensitas polusi karbon dari
kendaraan bermotor.
Tabel 12. Estimasi Emisi Karbon (Carbon Emission Estimation)
Jenis Konsumsi Bahan Estimasi Emisi Persentase
Kendaraan Bakar Rata-rata (g CO₂/km) Responden
(liter/km) (%)
Motor 0,035 80,5 70
Mobil 0,085 196,35 30
Berdasarkan hasil estimasi tersebut, pengemudi motor
menghasilkan emisi rata-rata 80,85 g CO₂/km, sedangkan pengemudi
mobil menghasilkan emisi 196,35 g CO₂/km. Meskipun proporsi
pengemudi mobil lebih kecil (30%), kontribusi emisi per kilometer dari
kendaraan roda empat hampir 2,4 kali lebih besar dibanding motor.
Apabila diasumsikan setiap pengemudi menempuh 70 km per hari, maka
estimasi emisi harian dapat dihitung sebagai berikut:
(1) Motor: 80,85 × 70 × 280 = 1,588.680 g CO₂/hari
(1.589 kg ≈ 1,59ton CO₂/hari)
(2) Mobil: 196,35 × 70 × 120 = 1,648.140 g CO₂/hari
(1.648 kg ≈ 1,65ton CO₂/hari)
(3) Total emisi harian seluruh responden:
Etotal = 1,59 + 1,65 = 3,24ton CO2/hari
Artinya, aktivitas 400 pengemudi daring berpotensi menghasilkan
sekitar 3,24ton CO₂ per hari, atau ±97ton CO₂ per bulan apabila
diasumsikan beroperasi penuh setiap hari.
Hasil ini memperlihatkan bahwa transportasi daring berbahan bakar
bensin masih menjadi sumber signifikan emisi karbon di wilayah
perkotaan. Dominasi sepeda motor memang menunjukkan efisiensi
penggunaan bahan bakar yang relatif tinggi, namun jumlah pengemudi
yang besar tetap memberikan kontribusi total yang tinggi terhadap
akumulasi emisi karbon perkotaan.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK,
2023), sektor transportasi menyumbang 27% dari total emisi karbon
nasional, dan lebih dari separuhnya berasal dari kendaraan pribadi dan
transportasi berbasis aplikasi. Selain itu, Asian Development Bank (2022)
menegaskan bahwa pertumbuhan transportasi digital di Asia Tenggara
tanpa kebijakan rendah emisi dapat meningkatkan emisi CO₂ perkotaan
hingga 20% dalam dekade mendatang.
Penelitian Sutopo, Rahmawati, dan Hidayat (2022) juga
menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kendaraan daring berdampak
pada kemacetan lokal (micro congestion) dan peningkatan emisi karbon
rata-rata per kilometer akibat waktu idle mesin yang tinggi di area
perkotaan padat. Oleh karena itu, hasil estimasi ini menjadi dasar ilmiah
24

