Page 295 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 295

Gambar 1. Grafik Tingkat Emisi Karbon
                        4.2.2 Identifikasi Faktor Peningkatan Emisi Karbon Transportasi
                               Online
                               Peningkatan emisi karbon pada sektor transportasi online di kota-
                        kota besar seperti: Jakarta, Depok, Bogor merupakan hasil dari kombinasi
                        faktor teknis, perilaku, dan sistemik. Berdasarkan hasil survei, observasi
                        lapangan, serta kajian pustaka, terdapat beberapa determinan utama
                        yang memengaruhi besarnya emisi karbon dari aktivitas transportasi
                        daring, baik roda dua maupun roda empat.
                        a) Frekuensi dan Durasi Operasional Tinggi
                            Pengemudi transportasi online memiliki jam kerja rata-rata 8–12 jam
                        per hari, dengan rata-rata jarak tempuh 80–120 km. Intensitas perjalanan
                        yang tinggi menyebabkan konsumsi bahan bakar meningkat secara
                        proporsional, sehingga memperbesar total emisi CO₂ harian. Penelitian
                        Suharyono et al. (2021) menunjukkan bahwa frekuensi perjalanan
                        memiliki korelasi positif dengan tingkat emisi karbon (r = 0,74), terutama di
                        kawasan padat aktivitas ekonomi seperti Jakarta dan Surabaya.
                        b) Ketergantungan terhadap Bahan Bakar Fosil
                            Sebagian besar kendaraan transportasi online masih menggunakan
                        bahan bakar bensin (RON 90–92). Berdasarkan data survei, 94%
                        kendaraan menggunakan bahan bakar konvensional, sementara hanya
                        6% yang beralih ke bahan bakar rendah emisi atau kendaraan listrik.
                        Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂),
                        karbon monoksida (CO), serta partikulat (PM2.5) yang berdampak
                        terhadap kualitas udara perkotaan (KLHK, 2023).
                        c) Kondisi Lalu Lintas Perkotaan
                            Kemacetan lalu lintas berperan besar dalam meningkatkan intensitas
                        emisi. Kendaraan yang berhenti dan berjalan berulang kali pada
                        kecepatan rendah (<20 km/jam) tetap membakar bahan bakar tanpa
                        menghasilkan jarak tempuh signifikan. Studi World Bank (2021)
                        memperkirakan bahwa kondisi stop-and-go dapat meningkatkan emisi
                        karbon hingga 30–40% dibanding lalu lintas lancar. Fenomena ini umum




                                                              27
   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299   300