Page 298 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 298

kemacetan menjadi penyumbang signifikan terhadap peningkatan emisi
                        CO₂ di wilayah perkotaan.
                               Secara keseluruhan, faktor operasional dan perilaku pengemudi
                        memiliki peran dominan terhadap total emisi karbon transportasi online.
                        Oleh karena itu, strategi pengelolaan rute, perawatan kendaraan, dan
                        peralihan ke bahan bakar rendah karbon menjadi kunci penting dalam
                        upaya mitigasi dampak lingkungan sektor ini.
                        4.2.3 Evaluasi Dampak Emisi Karbon Terhadap Perubahan Iklim
                               Perkotaan
                               Hasil analisis deskriptif pada tabel 12, menunjukkan bahwa
                        peningkatan emisi karbon (CO₂) dari aktivitas transportasi online
                        memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan iklim di kawasan
                        perkotaan Indonesia. Berdasarkan estimasi rata-rata emisi, mobil
                        menghasilkan sekitar 196,35 g CO₂/km, sedangkan motor sekitar 80,85 g
                        CO₂/km. Dengan asumsi frekuensi perjalanan tinggi dan waktu operasi
                        yang panjang, total emisi harian dari sektor transportasi daring menjadi
                        cukup besar untuk memengaruhi kualitas udara dan keseimbangan termal
                        kota.
                               Kondisi ini berimplikasi langsung terhadap kenaikan suhu udara
                        permukaan (urban heat island effect) dan penurunan kualitas udara
                        perkotaan. Daerah dengan kepadatan transportasi daring yang tinggi,
                        seperti Jakarta, Depok, dan Bogor, menunjukkan kecenderungan
                        peningkatan suhu rata-rata tahunan sebesar 0,5–1,2°C dalam satu
                        dekade terakhir (BMKG, 2023). Hal ini sejalan dengan penelitian
                        Setyowati dan Harjanto (2021) yang menyebutkan bahwa sektor
                        transportasi merupakan penyumbang emisi karbon terbesar kedua setelah
                        industri, dengan kontribusi mencapai 27% dari total emisi CO₂ perkotaan.
                               Selain itu, akumulasi emisi karbon dari kendaraan berbahan bakar
                        fosil memperburuk kondisi atmosfer melalui peningkatan gas rumah kaca
                        (GRK), yang berdampak pada perubahan pola curah hujan, frekuensi
                        banjir, dan penurunan kualitas lingkungan hidup. Studi Zhou et al. (2019)
                        menunjukkan bahwa peningkatan 1 ton CO₂ per kapita di area urban
                        berkorelasi    dengan     kenaikan     0,03°C     suhu    permukaan      lokal,
                        menggambarkan hubungan langsung antara aktivitas transportasi dan
                        pemanasan mikroklimat kota.























                                                              30
   293   294   295   296   297   298   299   300   301   302   303