Page 525 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 525

BAB I

                                               PENDAHULUAN



                 A. Latar Belakang Masalah
                           Sejarah  merupakan  bagian  penting  dari  identitas  dan  jati  diri  bangsa.

                     Melalui  pembelajaran  sejarah,  generasi  muda  dapat  memahami  asal-usul

                     bangsanya, menghargai perjuangan para pendahulu, serta mengambil pelajaran
                     berharga dari masa lalu. Sejarah tidak hanya mengajarkan tentang peristiwa yang

                     telah  berlalu,  tetapi  juga  membentuk  cara  pandang  generasi  muda  dalam

                     menghadapi  tantangan  masa  kini  maupun  masa  depan.  Menurut  Wineburg
                     (2001), pembelajaran sejarah berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan

                     berpikir kritis sekaligus menanamkan nilai-nilai moral dan kebangsaan. Namun,
                     realitas di lapangan menunjukkan bahwa minat terhadap pelajaran sejarah kerap

                     menurun.  Banyak  peserta  didik  menganggap  mata  pelajaran  sejarah
                     membosankan, penuh hafalan, serta kurang interaktif (Pratiwi 2022). Padahal,

                     penguasaan  sejarah  yang  baik  berperan  penting  dalam  membentuk  karakter,

                     menumbuhkan  rasa  nasionalisme,  memperluas  wawasan  kebangsaan,  dan
                     menghindarkan generasi dari kehilangan jati diri (Sukmadinata 2012).

                           Perkembangan  teknologi  saat  ini  telah  membawa  perubahan  signifikan
                     dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Proses belajar tidak lagi terbatas

                     pada  metode  konvensional  seperti  membaca  buku  teks  atau  mendengarkan
                     ceramah guru, melainkan telah berkembang ke arah yang lebih cepat, praktis,

                     dan interaktif. Peserta didik pada era digital lebih akrab dengan media digital

                     seperti ponsel, internet, dan aplikasi pembelajaran dibandingkan dengan buku
                     cetak. Hal ini sejalan dengan pandangan Prensky (2001) tentang digital natives,

                     yaitu generasi yang sejak lahir sudah terbiasa dengan teknologi digital sehingga

                     memiliki gaya belajar yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kondisi ini
                     dapat dilihat sebagai peluang untuk menghadirkan pembelajaran sejarah dengan

                     pendekatan yang lebih modern, menarik, serta sesuai dengan kebiasaan belajar





                                                                                                1
   520   521   522   523   524   525   526   527   528   529   530