Page 47 - USHUL FIKIH_INDONESIA_MAPK_KELAS XII_KSKK
P. 47

َنمَامهنيبَعماجَرمأبَامهنعَهيفنَواَامهلَمكحَتابثإَيفَمولعمَىلعَمولعمَلمح

                                                                     َ َ.امهنعَامهيفنَواَةفصَواَمكحَتابثإ


                              Artinya: Menghubungkan sesuatu kepada sesuatu yang lain perihal ada atau
                       tidak adanya hukum berdasarkan unsur yang mempersatukan keduanya, baik berupa

                       penetapan maupun peniadaan hukum /sifat dari keduanya.

                              Menurut Abu Zahrah, qiyas adalah menghubungkan suatu perkara yang tidak
                       ada nas  hukumnya kepada perkara baru yang ada nas hukumnya  karena keduanya

                       berserikat dalam ‘illat hukum. Sedangkan menurut Ibnu Qudamah qiyas adalah:

                                                              َ َامهنيبَعماجبَمكحَيفَلصاَىلعَعرفَلمح

                              Artinya:  Menghubungkan  furu’  kepada  asl  dalam  hukum  karena  ada  hal

                       yang sama (yang menyatukan) antara keduanya.
                              Para ahli usul menyatakan bahwa qiyas adalah menerangkan hukum sesuatu

                       yang  tidak  ada  nasnya  baik  dalam  Alquran  maupun  hadis  dengan  cara
                       membandingkannya  dengan  sesuatu  yang  ditetapkan  hukumnya  berdasarkan  nas.

                       Dapat dipahami secara tidak langsung bahwa qiyas adalah menghubungkan sesuatu
                       yang  tidak  disebutkan  nas  (Alquran  dan  hadis)  kepada  sesuatu  yang  disebutkan

                       hukumnya  karena  serupa  makna  hukum  yang  disebutkan.  Dengan  demikian,

                       ketetapan hukum suatu peristiwa yang tidak ada nasnyadapat dikatagorikan sebagai
                       qiyas, dengan dalil harus memenuhi keempat rukunnya.


                              Rukun qiyas terdiri dari empat unsur, yaitu:

                        1.  Al-Asl  (pokok)yaitu  sumber  hukum  yang  terdiri  dari  nas  yang  menjelaskan
                            tentang  hukum,  sebagian  besar  ulama  menyebutkan  bahwa,  sumber  hukum

                            yang  dipergunakan  sebagai  dasar  qiyas  harus  berupa  nas,  baik  nas  Alquran,

                            hadis  maupun  ijma`,  dan  tidak  boleh  mengqiyaskan  sesuatu  dengan  hukum
                            yang  ditetapkan  dengan  qiyas.  Asl  disebut  juga  maqis  ‘alaih  (yang  menjadi

                            ukuran),  Mahmul `alaih atau musyabbah bih (tempat menyamakan).

                        2.  Al-Far`u  (cabang)  yaitu  sesuatu  yang  tidak  ada  ketentuan  nasnya.  Artinya,
                            kasus yang ada tidak diketahui hukumnya secara pasti. Al-Syafi`i, dalam hal ini

                            mengatakan,  bahwa  far`  itu  adalah  suatu  kasus  yang  tidak  disebutkan
                            hukumnya  secara  tegas  dan  diqiyaskan  kepada  hukum  aslnya.  (yang  diukur),

                            mahmul atau musyabbah (yang diserupakan). Al-Far’u disebut juga maqis




                                                                           USHUL FIKIH  -  KELAS XII 38
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52