Page 38 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 38

Sesampainya di lapangan, ia melihat Digi sedang diangkat oleh
            beberapa orang, Jingga pun menghampiri Digi. “Kenapa ini?” tanya
            Jingga.
                 “Digi sakit perut katanya,” jawab salah satu pemain bola.
                 Sesampainya di suatu ruangan, setelah diobati Digi pun merasa
            lebih baik.
                 “Kamu hari ini kebanyakan buru-buru, itu gak baik tau, kamu
            jadi  gak  lebih  teliti,  akhirnya  kamu  sendiri  yang  kena,  sekarang
            malah sakit,” ucap Jingga dengan wajah serius.
                 “Iya, maaf,” jawab Digi.
                 “Lain kali, hati-hati gak usah buru-buru,” balas Jingga.

                 “Iya,  iya  nanti  bakal  hati-hati,  aku  sekarang  gapapa  kali  kita
            jajan yuk di depan lapangan ada tukang  sempol aku lapar pengen
            jajan  tadi  makan  di  rumah  kamu  belum  puas  hehehe,”  ucap  Digi
            sambil memakai sepatu.
                 “Haduhhhh,” Jingga sambil menepuk jidatnya.
                 Dalam  lamunannya  pun  Jingga  kembali  tersadar  oleh  sapaan
            dari seorang guru.
                 “Jingga,”  ucap  seorang  guru.

                 “Ehh,, Bu guru,” jawab Jingga.
                 “Kamu rajin sekali Jingga, jam segini udah datang oh ya udah
            waktunya salat zuhur, kita salat yuk,” ajak ibu guru.
                 Jingga  dan  Ibu  guru  pun  pergi  ke  masjid  sekolah  bersama-
            sama, setelah salat pun Jingga bercerita pada guru tersebut bahwa
            ia  telah  terburu-buru  dan  ia  pikir  ia  sudah  terlambat.  Guru  yang
            mendengar  cerita  dari  Jingga  pun  memeluk  sambil  berkata,  “Ya
            udah  nanti  lagi  gak  perlu  buru-buru  yaa,  di  cek  kembali  sebelum
            dilakukan,” kata Ibu guru tersebut.
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43