Page 42 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 42

“Iya Buuu, terima kasiiih   nanti aku ajak Digi juga ya Bu,” ucap
            Jingga  dengan  penuh  gairah  dan  senyum  manis  yang
            memperlihatkan gigi kelincinya.
                 Hari  sudah  larut  malam,  tapi  Jingga  masih  menatap  langit
            langit  kamarnya  sambil  sesekali  membayangkan  sepatu  roda
            impiannya.  Jingga  berusaha  menutup  matanya  dan  menutup
            kegiatannya  di  hari  ini,  namun  matanya  benar-benar  sulit  untuk
            dipejamkan...  semua  karena  Jingga  sudah  tak  sabar  menanti  hari
            esok.
                 Pagi hari sekali, Jingga terperanjat dari mimpi indahnya. Jingga
            terbangun  lantaran  mendengar  lantunan  azan  subuh  yang  merdu
            dari  masjid  pinggir  rumahnya.  meski  usianya  baru  6  tahun,  tapi
            Jingga sudah sangat mandiri dan rajin melaksanakan ibadah salat.

                 “Ckleek....”  suara  pintu  terbuka  dan  menampilkan  sosok
            bidadari tak bersayap yang begitu cantik. Wajahnya sangat bersinar
            dan terlihat anggun dengan balutan mukenah berwarna pink yang
            ayah berikan sewaktu ibu ulang tahun beberapa pekan lalu.
                 “Jingga,  kamu  sudah  bangun  Nak?”  ucapnya  dengan  penuh
            kelembutan dan sorot mata penuh kasih saying.
                 “Sudah  Bu,”  sambil  sesekali  menggosok  matanya  kemudian
            menguap.
                 Jingga  langsung  turun  dari  ranjang  tempat  tidurnya,  Jingga
            membereskan  selimut yang berserakan bekas ia tidur semalaman.
            kemudian bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
            Begitulah  kegiatan  Jingga  setiap  harinya,  Ia  benar-benar  mandiri
            dan membuat orang di sekitarnya bangga.
                 Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 07.00 masih sangat
            pagi  untuk  pergi  ke  balai  desa,  tapi  Jingga  dengan  semangatnya
            yang  membara  sudah  terduduk  manis  di  kursi  halaman  rumah
            dengan  segala  perlengkapan  yang  sudah  Ia  kemas  semalaman
            bersama  Ibunya.  Wajahnya  benar-benar  ceria,  sambil  terus
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47