Page 46 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 46
“Baik Pak, terima kasih,” dengan sigap, Jingga membereskan
peralatan mewarnainya, dan bergegas ke luar ruangan untuk
menemui Ibu dan Digi.
“Ibuuuu aku sudah selesaai yeeee,” ucapku bahagia pada Ibu
yang sedang mengelus elus pundak Digi.
Ibu tersenyum dan langsung memberi isyarat untukku
meminta maaf pada Digi, padahal ibu gak tau apa yang sebenarnya
terjadi. Dengan lantang aku mengulurkan tangan kananku ke
hadapan Digi yang terlihat sangat bersedih itu.
“Digi, aku minta maaf yaa, tadi aku benar-benar panik.”
Digi hanya membalas uluran tanganku tanpa menjawab
permintaan maafku.
“Digi, terima kasih yaa ice creamnyaa aku sukaa,” ucapku lagi.
Tapi Digi masih terdiam tanpa menjawab apa pun yang aku
katakan. Aku merasa sangat bersalah marah marah padanya.
“Digi, Jingga tadi lagi panik dan gak sengaja marah... kamu
maafin Jingga yaa Nak yaa, kan Allah maha pemaaf. Digi ingat gak
syarat masuk surga itu harus anak yang saleh, dan anak yang saleh
adalah anak yang pemaaf,” ucap Ibu pada Digi.
“Aku juga minta maaf Jingga, sudah membuatmu panik,” ucap
Digi yang akhirnya buka suara.
“Cekk soundd... cek sounddd. ”
“Pengumuman pengumuman pada seluruh peserta lomba
mewarnai diharap untuk berkumpul di tempat yang sudah di
sediakan terima kasih.”
“Bu, Digi, ayoo,” ucap Jingga bersemangat.
“Semoga menang Jinggaa,” ujar Digi.
“Juara pertama lomba mewarnai di menangkan
oleeeehhhhh...... Ananda JINGGA.... dipersilahkan untuk menaiki
panggung yang telah disediakan. Juara 1 pada perlombaan ini