Page 50 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 50
menghampiri nenek Jayanti dan bantu membawakan keresek milik
nenek Jayanti. Digi mengikuti dari belakang tapi tidak berani
mendekati nenek Jayanti.
“Sini Nek, Jingga bantu bawa kereseknya ya.”
“Eh nuhun-nya Cu,” Nenek Jayanti menjawab masih dengan
muka ketus.
Esok pun tiba. Jingga melakukan aktivitas pagi seperti biasa.
Setelah salat subuh, Jingga bersiap untuk sekolah. Jingga menunggu
jemputan di pinggir jalan lalu melihat ke arah rumahnya nenek
Jayanti. Jingga ingat kalau dia diundang nenek Jayanti untuk ke
rumahnya dan bertemu cucunya.
Sesampainya di sekolah. Jingga sudah melihat Digi yang sedang
asik mengobrol bersama teman-temannya.
“Kemarin, aku ngeliat nenek Jayanti marah-marahin mang
angkot depan rumah Jingga. Aku takut sama nenek Jayanti, soalnya
suka marah-marah kayak nenek lampir.”
Jingga yang mendengar cerita Digi segera menghampiri Digi.
“Halo! Lagi cerita apa?”
“Digi cerita nenek Jayanti yang suka marah-marah. Kata ibu
aku, kalau aku nakal nanti bakal dibawa nenek lampir,” jawab Rara
teman sekelas Jingga dan Digi.
“Oh, kemarin itu nenek Jayanti marahin mang angkot soalnya
jalannya kebut-kebutan. Kan kalau kebut-kebutan itu bahaya, nanti
takut kecelakaan atau tabrakan. Nenek Jayanti baik kok.”
Rara lalu mangut-mangut dan mengajak teman-teman lain
untuk bermain di lapang dekat rumah Jingga.
Teman-teman Jingga percaya dengan kata-kata Jingga karena
Jingga tidak pernah berbohong. Lalu mereka bubar dan duduk di
bangku masing-masing karena bel sekolah telah berbunyi untuk
masuk.