Page 48 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 48

Laelatu Zaqiyah





            Di Minggu pagi yang cerah, terlihat seorang anak memegang sapu
            dengan  senyum  yang  melengkung  di  bibirnya.  Piyama  tayo  yang
            masih dipakainya menandakan bahwa dia baru melakukan aktivitas
            paginya.  Jingga.  Begitulah  orang-orang  memanggilnya.  Pagi  itu,
            Jingga sedang membantu orang tua menyapu halaman di halaman
            rumahnya.  Jingga  bersenandung  dan  membuat  langkah-langkah
            kecil mengikuti irama di dalam pikirannya.
                 “…. nona minta dansa, dansa empat kali, serong ke kiri, serong
            ke kanan,, lalala…”

                 Brugh. Jingga menabrak seseorang di belakangnya.
                 “Dasar  budak,,  liat-liat  kalau  mundur  teh  ya!  Nenek  jadi
            ketabrak!” bentak Nenek Jayanti dengan logat Sundanya.
                 “Ehehe,  maaf  nek!  Jingga  enggak  liat,”  Jingga  menggaruk
            kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
                 “Nenek  mau  ke  mana?”  tanya  Jingga  yang  melihat  nenek
            Jayanti membawa keranjang besar.
                 “Nenek mau ke pasar. Nanti Senin, incu Nenek dari Sukabumi
            mau dateng ke rumah.  Jingga dateng ya, kenalan sama incu Nenek.”
                 “I…  iya,  Nek.  Nanti  Jingga  datang,”  jawab  Jingga  ragu-ragu.
            Nenek Jayanti tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya ke pasar.
            Jingga juga melanjutkan kegiatan paginya menyapu halaman rumah
            yang penuh dengan daun dari pohon rambutan.
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53