Page 43 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 43
memanggil manggil ibunya, pertanda bahwa Jingga sudah sangat
ingin berangkat.
“Ibuuu, aku ke rumah Digi dulu yaaa... aku mau ajak Digiii,”
teriak Jingga pada Ibunya yang tengah asyik berhias diri.
“Iyaaa,” sahut ibu dengan sedikit berteriak dari dalam rumah.
Jingga pun berlalu menuju rumah Digi yang tak terlalu jauh
dari rumahnya, dengan raut wajah semangat, Jingga mengucapkan
salam di depan pintu rumah Digi.
“Assalamu’alaikuuum Digiiii.”
Tak butuh waktu lama, sudah ada yang menjawab salam Jingga
sambil membukakan pintu mewahnya untuk Jingga.
“Waalaikumussalam Jingga... mau ke Digi Nak?” ucapnya
ramah.
“Iya Tante, aku mau ajak Digi ke balai desa.”
“Waah Masyaallah.. Digi sehabis salat subuh tidur lagi Nak, dan
sekarang belum bangun lagi. Tante bangunin dulu yaa.. yuk
Jingganya tunggu di dalam.”
Jingga pun masuk ke rumah yang super duper mewah itu, baru
saja masuk Jingga sudah disuguhi pemandangan foto Digi dan
dirinya semasa wisuda TK. Jingga tersenyum haru melihatnya.
Terdengar hentakan kaki dari lantai dua menuju lantai satu.
sepertinya itu Digi, dan benar saja, itu suara telapak kaki kecil Digi
yang masih mengenakan pakaian tidur dan rambut yang sedikit
acak-acakan. Sesekali Digi menggaruk kepalanya dan menguap
tanda ia masih ngantuk.
“Ada apa Jingga pagi-pagi ke sini?”
“Aku mau ajak kamu pergi ke balai desa bersama Ibuku, Digi
ikut yaaa pliisss,” ungkap Jingga yang memelas penuh harap.
“Ah Jingga mengganggu tidurku saja. Emang mau ngapain ke
balai desa?” ucapnya malas.