Page 41 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 41
benar penasaran dengan kertas itu, sehingga sepanjang perjalanan
menuju rumah, mata Jingga berkelana, berharap ada kertas itu lagi
di lain tempat. Dan yeahhh Jingga kembali menemukan kertas itu
lagi di dinding pos ronda! Akhirnyaa Jingga dapat membaca kertas
itu dengan mudah. Ia membaca tulisan yang ada di kertas tersebut
dengan semangat.
“Lomba mewarnai anak BERHADIAH SEPATU RODAAAAAAA...
Digi kita harus ikut biar dapet sepatu roda,” ucapnya dengan penuh
pengharapan.
“Nggak ah, kan kalo mau sepatu roda tinggal minta ke ayah,
ayah aku kan orang kaya,” ucap Digi dengan angkuh.
Tak lama, Digi pergi meninggalkan Jingga yang sedang fokus
dengan kertas yang berada di hadapannya.
“Ibu, besok pagi boleh anter aku lomba mewarnai?”
“Lomba mewarnai apa Jingga? Di mana?”
“Di Aula balai desa Bu... aku mau ikut karena berhadiah sepatu
roda,” Ucap jingga seraya merajuk ibundanya.
“Jingga anakku Sayaang, kamu tidak boleh mengharapkan
pemberian apa pun dari orang lain... kalau kamu ikut lomba karena
mau dapat sepatu roda, berarti kalau kamu kalah kamu gak bisa
dapetin apa yang kamu inginkan.”
“Berarti aku gak boleh ikut ya Bu?” Jingga terduduk lesu
dengan merubah raut wajah yang ceria menjadi penuh luka seakan
penuh derita.
Ibu tersenyum haru melihat tingkah anak gadis yang sangat
menggemaskan ini.
“Maksud Ibu, Jingga boleh pergi tapi niatnya di ganti. jangan
terlalu berharap jika tak mau di kecewakan oleh jawaban. Kalah
menang dalam perlombaan adalah hal biasa, jadikan semuanya
pelajaran dan pengalaman,” ujar ibu yang memberikan nasihat pada
Jingga.