Page 49 - PETUALANGAN JINGGA DAN DIGI
P. 49
Siang hari. Jingga bermain di halaman. Datanglah seorang anak
yang tidak asing bagi Jingga, baju kebesaran yang selalu dia pakai
membuatnya terlihat kecil meski tubuhnya lebih besar dari Jingga.
Digi. Teman Jingga yang sangat usil. Rumah mereka berdekatan,
membuat Jingga selalu bermain dengan Digi. “Jingga, lagi main apa?
Aku kemarin ke Bandung loh sama Ayah.”
Jingga menanggapi, “Ngapain ke Bandung?”
“Aku ke kebun binatang. Liat buaya besar. Aku kemarin
bertarung sama buaya besar.”
“Bohong! Yang ada kamu dimakan sama buaya!”
“Ya engga dong, aku lempar pakai batu besar, terus buayanya
pingsan.”
Digi melanjutkan ceritanya. Sedikit dibesar-besarkan. Cerita
sebenarnya, dia melempari buaya di kebun binatang. Buaya yang
sedang berjemur merasa terganggu dan bergerak masuk ke dalam
air. Digi menangis karena bosan dan mulai mengganggu hewan lain.
Penjaga kebun binatang harus beberapakali mengantarkan Digi
pada ayahnya karena menganggu hewan-hewan di kebun binatang
dan khawatir hewan balik menyerang Digi.
Jingga lalu memotong cerita Digi karena mendengar omelan
nenek Jayanti ketika turun dari mobil angkot.
“Sssstttt,” Jingga mendekatkan jari telunjuk ke mulutnya.
“Hiiih supir! Bawa mobil teh meni ugal-ugalan! Jantung Nenek
nanti copot kumaha coba? Mau tanggung jawab?!”
Supir angkot tidak menghiraukan omelan nenek Jayanti dan
kembali menginjak gas mobilnya.
“Mereke deweng siah!” teriak nenek Jayanti pada supir angkot.
Nenek jayanti segera mengangkat keranjang belanja miliknya dan
berjalan menuju halaman rumahnya, rumah di kampung Jingga
memang jarang yang berpagar, jadi Jingga dan Digi bisa melihat
nenek Jayanti yang keberatan membawa keranjang. Jingga segera