Page 192 - ORASI ILMIAH PROF. DR. POPPY ANDI LOLO SH. MH.
P. 192
191
kepada setiap warga mendapatkan harapan dan tujuannya. Munculnya
penyimpangan berupa perdagangan orang karena mereka (mayoritas dan
minoritas) tidak mendapatkan apa yang diharapkannya. Mereka terisolir oleh
sistem sosial yang terpola dan didominasi oleh orang-orang tertentu sedang
hukum yang diharapkan mampu menekan diskriminasi-diskriminasi dalam
bidang ekonomi, politik dan pendidikan tidak bekerja seperti yang diharapkan
setiap orang sehingga mereka terjerumus ke dalam situasi yang menurut
Merton sebagai situasi ketegangan atau tekanan (Strain). Kondisi tekanan
atau ketegangan (strain) itulah pada hakikatnya mereka yang terlibat dalam
kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sebagai faktor
kriminogen Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Mereka tidak dapat
mewujudkan harapan dan tujuan-tujuan hidup mereka menurut cara-cara
atau sarana-sarana konvensional (legimate means), seperti, mengikuti
pendidikan, mencari pekerjaan yang layak dan penghasilan yang dapat
memenuhi kebutuhannya. Selain itu, mereka terganjal pada pola
mewujudkan harapan dan tujuan hidup melalui cara konvensional yang
terpola melalui regulasi sosial yang ketat. Hal ini terjadi karena dalam
masyarakat sudah melembaga bahwa untuk mendapatkan suatu cita-cita
(goals) telah ditentukan cara-cara (means) tertentu yang diakui dan
dibenarkan dan harus ditempuh melalui cara itu. Namun dalam kenyataan
tidak semua orang dapat melalui cara-cara yang konvensional tersebut
sehingga ada individu yang melakukan dengan cara-cara yang menyimpang
dari cara konvensional. Salah satu cara untuk mendapatkan cita-cita itu

