Page 187 - ORASI ILMIAH PROF. DR. POPPY ANDI LOLO SH. MH.
P. 187
186
; hukum tidak dapat menjadi alat kontrol sosial yang efektif dalam
masyarakat. Akibatnya, pranata-pranata yang dibentuk oleh hukum dan
tujuan-tujuan hukum tidak akan tercapai sebagaimana yang diharapkan.
Kegagalan ini menurut peneliti merupakan bahaya laten (potensial) yang
harus ditangani secara serius oleh pemerintah dan masyarakat dengan cara
mengoptimalkan kembali pranata hukum sebagai sosial kontrol dalam
masyarakat untuk mencegah dan me-rem laju munculnya viktimisasi
struktural dan fiktimisasi fungsional dalam masyarakat. Viktimisasi
structural adalah muncul korban-korban Tindak Pidana Perdagangan Orang
(TPPO) yang terorganisir secara rapi (mafia) sehingga membentuk suatu
stratifikasi kejahatan dalam masyarakat dan viktimisasi fungsional adalah
terbentuknya kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) secara
fungsional yang melibatkan individu secara pribadi dan massal sehingga
membentuk hubungan-hubungan sosial didasarkan pada saling
menguntungkan (commond needs profeet) tanpa mengindahkan nilai dan
norma yang hidup dalam masyarakat. Kedua dampak tersebut jika sudah
terbentuk akan menyulitkan dan menguatkan para pelaku Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO) sebagai kejahatan yang sulit ditanggulangi
secara hukum. Karena itu, melalui optimalisasi dan penegakan hukum
diperlukan optimalisasi peran hukum (putusan pengadilan) sebagai sarana
kontrol sosial. Dalam kaitan itulah asumsi dasar teori Kontrol sosial secara
nyata dan meyakini bahwa faktor attachment, commitment dan involvement
serta belief factor dan sebagai faktor kriminogen melemahnya kontrol

