Page 183 - ORASI ILMIAH PROF. DR. POPPY ANDI LOLO SH. MH.
P. 183
182
Berdasarkan data Tabel 12 diperoleh informasi faktual bahwa
ancaman pidana yang diterapkan kepada pelaku Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO) maksimal 10 tahun pidana penjara dan minimal
2 tahun 6 bulan. Denda maksimal 2 milyar dan denda minimal 60 puluh juta
rupiah. Menganalisis putusan pengadilan tersebut tampak bahwa sejak
putusan ditetapkan kejahatan perdagangan orang tidak berhenti bahkan
semakin meningkat. Bahkan, apa yang diputuskan oleh pengadilan tidak
menyebabkan untuk berhenti melakukan kejahatan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO). Bukti dari asumsi ini dapat dilihat dalam
statistik kriminal yang tercatat dalam laporan kepolisian Makassar. Dari sejak
tahun kasus dan laporan pengaduan tentang kejahatan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO) sampai tahun 2010 semakin meningkat
meskipun telah ada beberapa putusan pengadilan diputuskan dan
diberitakan melalui media masa dan elektronik pelakunya telah dijatuhi
sanksi pidana (penjara dan denda).
Dari perspektif kriminologis, khususnya etiologi kriminal dan penologi,
maka putusan pengadilan terhadap tidak dapat menjadi sarana efektif untuk
menjadikan orang menjadi jera (represif). Artinya, dari segi teori pembalasan
kejahatan semestinya terkendalikan dan dapat me-rem laju perkembangan
kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dalam masyarakat.
Akan tetapi, aspek penjeraan (represif) putusan pengadilan sebagai pranata
hukum tidak dapat mengendalikan perilaku setiap orang menjadi calon-calon
penjahat dan bahkan putusan pengadilan menjadi faktor kriminogen.

