Page 181 - ORASI ILMIAH PROF. DR. POPPY ANDI LOLO SH. MH.
P. 181
180
dan paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (Lima Miliar Rupiah). Maksud
pembuat undang undang mengenakan sanksi maksimum dan minimum ini
adalah upaya represif dan preventif, yaitu ditujukan agar menimbulkan efek
jera pada pelaku dan mencegah orang melakukan kejahatan yang sama.
Secara umum, pengenaan sanksi tersebut sebagai antisipasi dan
menjerat semua pelaku atau yang membantu melakukan terjadinya
Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), baik dalam proses, cara,
ataupun semua bentuk Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang
mungkin yang dilakukan secara perseorangan, korporasi, maupun aparat
penyelenggara negara. Selain itu, disamping menghukum pelaku dengan
sanksi yang berupa pidana (penal), sanksi non penal, juga diwajibkan
untuk memberikan restitusi bagi korban. Pelaku atau mereka yang
terlibat dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), menurut
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 juga memberikan perlindungan
kepada korban dan saksi sebagai wujud bentuk pengakuan dan
perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk
Tuhan. Bahkan, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang
korban umumnya mengalami penderitaan, sehingga sudah selayaknya
apabila diberikan restitusi oleh pelaku sebagai ganti kerugian bagi pen-
deritaan korban, dan rehabilitasi dari pemerintah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sanksi pidana bagi
pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tidak sebagaimana yang
diharapkan. Dalam Tabel 12 berikut diperoleh data tentang ancaman pidana

