Page 184 - ORASI ILMIAH PROF. DR. POPPY ANDI LOLO SH. MH.
P. 184
183
Permasalahan utama menurut analisis peneliti bahwa secara teoretis dan
menggunakan asumsi sosiologi kriminal tentang kejahatan menunjukkan
suatu orientasi fenomena pada melemahnya kontrol hukum (pengadilan)
terhadap perilaku kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)
dalam masyarakat. Putusan-putusan pengadilan yang memiliki otoritas untuk
menyatakan seseorang sebagai penjahat tidak dapat dapat menjalankan
fungsinya sebagai sarana represif mencegah kejahatan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO). Ini menjadi indikasi empirik bahwa hukuman
penjara dan denda sebagai sarana represif yang diterapkan kepada pelaku
kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tidak memiliki
pengaruh signifikan bagi pelakunya dalam masyarakat. Selain itu, pidana
penjara dan denda yang pada umumnya jauh dari harapan sosial karena dari
sejumlah putusan lebih banyak menerapkan pidana yang ringan dan denda
yang tidak maksimal sehingga dari perspektif kriminologi antara penjatuhan
pidana penjara dengan perilaku kejahatan tidak memiliki korelasi untuk
memberantas kejahatan perdagangan orang. Karena itu, dibutuhkan suatu
rekonstruksi terhadap semua putusan pengadilan untuk menjatuhkan pidana
maksimal dan denda maksimal sebagai upaya represif dalam menanggulangi
kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dalam masyarakat.
Rendahnya pidana penjara dan denda yang diputuskan oleh pengadilan
didasarkan pada pertimbangan hakim yang tidak memandang bahwa
perbuatan pelaku telah menghacurkan sendi-sendi atau tatanan sosial. Hal
dapat dilihat dalam beberapa pertimbangan aparat penegak hukum baik

