Page 179 - ORASI ILMIAH PROF. DR. POPPY ANDI LOLO SH. MH.
P. 179
178
jera atau sebagai sarana pendidikan bagi pelaku dan orang lain. Dalam
banyak teori tentang pemidanaan dikenal teori absolut, teori relatif dan teori
gabungan 151 . Bahkan saat ini sanksi pidana menggunakan double track
system sebagaimana yang dikembangkan oleh para ahli hukum pidana 152 .
Pada mulanya menggunakan teori absolut yaitu suatu teori yang menganut
pandangan bahwa setiap kejahatan harus dibalas sesuai dengan perbuatan
pembuat 153 yang dalam tataran teoretis disebut sebagai teori pembalasan
(represif).
Selanjutnya, dalam perkembangannya pemikiran tentang
pemidanaan, tumbuh suatu pemahaman baru tentang paradigma
pemidanaan. Perubahan paradigma tersebut telah bergeser menjadi teori
relatif atau teori gabungan yakni bahwa pemidanaan bukan semata-mata
untuk memberikan balasan akan tetapi bertujuan melakukan pencegahan
atau preventif 154 . Perubahan pandangan tersebut menunjukkan bahwa
sistem pemidanaan tidaklah statis akan tetapi dinamis sesuai dengan
151 .Teori-teori tentang pemidanaan dewasa ini yang hanya bertumpu pada
pemahaman pemidanaan sebagai pemberian rasa jera kepada pelaku delik sudah mulai
ditinggalkan oleh kalangan akademisi dan praktisi. Meskipun demikian perubahannya tidak
signifikan dalam perkembangan teori-teori pemidanaan dalam hukum pidana. Pemutakhiran
teori pemidanaan ini dikenal dengan teori integratif. Teori ini pertama kali diperkenalkan
Muladi dalam disertasinya sebagai teori retributif-teleologis yaitu tujuan pemidanaan bersifat
plural karena menggabungkan antara prinsip teleologis dan retributif sebagai satu kesatuan.
Tujuan ini berorientasi pada pemidanaan mengtegrasikan retribusi yang bersifat utilitarian.
152 Pembahasan lebih jauh dari temuan teori pemidanaan ini dapat dilihat dalam
buku (disertasi) Sholehuddin berjudul “Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana: Ide Dasar
Doble Track System dan Implementasinya, PT. RajaGrafindo, Jakarta, 2003, hal. 185-224.
153 Penggunaan teori absolut dalam pemidanaan merupakan reaksi keras terhadap
para pelaku kejahatan. Pembahasan lebih jauh tentang teori ini terdapat dalam beberapa
buku, antara lain, Sholehuddin, ibid, hal.31- 54.
154 Pandangan ini dianut sebagai perkembangan teori pemidanaan yang mulanya
berorientasi pada tujuan pemidanaan karena pembalasan (retributif). Dalam
perkembangannya tujuan pemidanaan bergeser ke arah teori relatif yang berporos pada tiga
tujuan utama yaitu, preventif, deterrence dan reformatif. Tujuan pemidanaan ini dianut oleh
beberapa ahli hukum pidana antara lain, Leonard Orland. Karl O.Christiansen.

