Page 32 - Level B1_Isi APa yang lebih seru? SIBI.indd
P. 32
malam ini kita makan berdua saja. Papa pulang malam saat teringat Selvi. Ini debar karena teringat tingkahnya
karena kepala cabang kantornya sedang sakit. Papa harus yang seperti diktator di lapangan tadi. Menyebalkan!
lembur.”
Makanan sudah datang. Bayangan makanan berkuah
Aku setuju, makanan berkuah sepertinya enak panas nan lezat menari-nari di benakku. Dengan cekatan,
dimakan saat badan lesu begini. aku mengambil piring dan menatanya di meja. Sementara
itu, Mama memanaskan makanan itu.
Dengan sigap, Mama pun memencet-mencet
aplikasinya. “Jadi, bagaimana ekskulnya? Main lagu Wah, aromanya sedap! Seperti aroma pindang tulang
apa?” lagi-lagi Mama bertanya. yang dimasak Mak Dang. Hm, cacing-cacing di perutku
menggeliat. Aku mau makan yang banyak!
“Lagu-lagu mars gitu, Ma, tetapi ….” aku tak sempat
menyelesaikan jawabanku karena Mama memotong Dua centong nasi kuletakkan di piringku, tetapi … apa
ucapanku. itu?
“Oh, berarti seperti main dol dengan teknik tamatam, Huek! Penampakan makanan ini sungguh membuatku
pukulan cepat sesuai irama lagu. Gampang, kan?” tak berselera. Kuahnya hitam pekat, seperti ampas air
kopi. Ada potongan daging, telur rebus yang warnanya
Aku menggeleng. “Tidak, Ma. Aku tidak main drum.
juga pekat, tahu, dan kacang tolo. Angan-anganku
Tidak ada lowongan tersisa, sudah ada pemainnya semua.
akan pindang tulang pun menguap bersamaan dengan
Aku bertugas jadi colour guard, pembawa bendera.”
hilangnya selera makanku.
Kukira Mama akan tertawa, tetapi Mama malah
“Apa ini?” aku bergidik sambil menunjukkan sesuatu
mengacungkan jempolnya. Kata Mama, menjadi colour
berwarna merah merona.
guard membuatku paham hitungan dan ketukan nada.
Selain itu, aku akan semakin pandai baris-berbaris. “Oh, itu kulit melinjo. Kau tahu melinjo, kan?
Bahan pembuat emping,” sahut Mama. Mama nampak
Mama benar, tadi Gendhis amat memaksaku
menikmati sekali suapan demi suapannya.
memerhatikan hitungan langkahku. Aku tidak boleh
meleset satu detik pun. Gendhis sungguh bermata Perutku mendadak mual. Kulit melinjo kan
tajam. Pelatih saja tidak begitu memperhatikan, dia lebih seharusnya dibuang, kok malah dimakan? Aku baru
memperhatikan pemain drum dan alat musik. Kami para tahu di belahan bumi yang lain ini ada orang makan kulit
colour guard lebih banyak diatur oleh Gendhis. melinjo. Ini makanan apa? Aku tak mau makan ini.
Dadaku mendadak berdebar saat membayangkan Aku mau bikin mie instan atau menggoreng telur saja,
wajah Gendhis. Bukan, bukan berdebar naksir seperti Ryan tetapi Mama bilang semua itu tidak ada. Mama belum
24 Misteri Drumben Tengah Malam Bab 4 Unggahan Menyakitkan 25