Page 35 - Level B1_Isi APa yang lebih seru? SIBI.indd
P. 35

berbelanja. Tentu saja aku tak percaya, paling-paling  Meski lambat, akhirnya nasi di piringku habis juga.
 ini akal-akalan Mama agar aku mau makan makanan  Jangan coba-coba tidak menghabiskan makanan di
 mengerikan itu.  rumah ini. Melihat satu butir nasi tersisa di piring saja
               Mama bisa cemberut berhari-hari, apalagi sisa banyak.
 Aku mengaduk-aduk isi lemari, tetapi tidak ada satu
 pun mie instan di sana. Begitu juga ketika aku melongok isi   “Pandai nian anak Mama, makanannya habis! Dewi
 kulkas. Kosong melompong! Duh, aku harus makan apa?  Sri tersenyum melihat piringmu licin begitu,” puji Mama.

 “Sudahlah, makan ini saja, Ini namanya brongkos.  Alamak. Siapo pulo Dewi Sri? Ambo tak kenal.
 Makanan khas Yogya. Kamu jangan berprasangka buruk
                   Melihatku menggaruk-garuk kepala, Mama tertawa
 dulu. Ini enak, kok. Coba cicip,” Mama menyodorkan
               dan bilang bahwa Dewi Sri itu dewi padi.
 sendoknya ke mulutku.
                   Aku semakin menggaruk kepala, tanda aku tak
 Aku makan sambil memejamkan mata. Di luar
               paham. Namun sudahlah, aku mengangguk-angguk saja
 dugaanku, rasa brongkos ini lumayan. Sepertinya aku
               dan menyimak. Mama memang punya pengetahuan
 bisa makan ini dengan satu syarat, yaitu jangan melihat
               yang luas, banyak hal yang Mama tahu dan aku tidak
 penampakannya. Kalau aku nekad membuka mata, bisa-
               tahu. Meski demikian, Mama tak pernah sok pintar, tidak
 bisa isi perutku tumpah ruah.
               seperti … ah! Lagi-lagi aku teringat Gendhis.
                   “Ma, aku ke kamar, ya.” pamitku setelah membantu
               Mama mencuci piring bekas makan malam. Saat di
               kamar, buru-buru kunyalakan ponselku. Aku melihat-lihat
               ke galeri foto. Nah, ini dia. Aku akan mengunggah foto
               ini di story  medsosku. Kutambahkan teks singkat untuk
               melengkapi.
                   Usai mengunggah foto Gendhis, aku tertawa-tawa
               sendiri.  Gendhis nampak jelek sekali. Mungkin jika
               setuwou itu benar-benar ada, seperti itulah tampangnya.
               Aku yakin, teman-temanku di Bengkulu pasti setuju jika
               Gendhis cocok jadi kuntilanak. Tak lama lagi, teman-
               temanku pasti akan berkomentar.







 26                                  Bab 4 Unggahan Menyakitkan  27
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40