Page 33 - Level B1_Isi APa yang lebih seru? SIBI.indd
P. 33

malam ini kita makan berdua saja. Papa pulang malam  saat  teringat  Selvi.  Ini  debar  karena  teringat  tingkahnya
 karena kepala cabang kantornya sedang sakit. Papa harus   yang seperti diktator di lapangan tadi. Menyebalkan!
 lembur.”
                   Makanan sudah datang. Bayangan makanan berkuah
 Aku setuju, makanan berkuah sepertinya enak  panas nan lezat menari-nari di benakku. Dengan cekatan,
 dimakan saat badan lesu begini.   aku mengambil piring dan menatanya di meja. Sementara
               itu, Mama memanaskan makanan itu.
 Dengan  sigap,  Mama  pun  memencet-mencet
 aplikasinya. “Jadi, bagaimana ekskulnya? Main lagu  Wah, aromanya sedap! Seperti aroma pindang tulang
 apa?” lagi-lagi Mama bertanya.   yang dimasak Mak Dang. Hm, cacing-cacing di perutku
               menggeliat. Aku mau makan yang banyak!
 “Lagu-lagu mars gitu, Ma, tetapi ….” aku tak sempat
 menyelesaikan jawabanku karena Mama memotong  Dua centong nasi kuletakkan di piringku, tetapi … apa
 ucapanku.     itu?
 “Oh, berarti seperti main dol dengan teknik tamatam,   Huek! Penampakan makanan ini sungguh membuatku
 pukulan cepat sesuai irama lagu. Gampang, kan?”  tak berselera. Kuahnya hitam pekat, seperti ampas air
               kopi. Ada potongan daging, telur rebus yang warnanya
 Aku menggeleng. “Tidak, Ma. Aku tidak main drum.
               juga pekat, tahu, dan kacang tolo. Angan-anganku
 Tidak ada lowongan tersisa, sudah ada pemainnya semua.
               akan pindang tulang pun menguap bersamaan dengan
 Aku bertugas jadi colour guard, pembawa bendera.”
               hilangnya selera makanku.
 Kukira Mama akan tertawa, tetapi Mama malah
                   “Apa ini?” aku bergidik sambil menunjukkan sesuatu
 mengacungkan jempolnya. Kata Mama, menjadi colour
               berwarna merah merona.
 guard  membuatku paham hitungan dan ketukan nada.
 Selain itu, aku akan semakin pandai baris-berbaris.   “Oh, itu kulit melinjo. Kau tahu melinjo, kan?
               Bahan pembuat emping,” sahut Mama. Mama nampak
 Mama benar, tadi Gendhis amat memaksaku
               menikmati sekali suapan demi suapannya.
 memerhatikan hitungan langkahku. Aku tidak boleh
 meleset satu detik pun. Gendhis sungguh bermata  Perutku  mendadak  mual.  Kulit  melinjo  kan
 tajam. Pelatih saja tidak begitu memperhatikan, dia lebih   seharusnya dibuang, kok malah dimakan? Aku baru
 memperhatikan pemain drum dan alat musik. Kami para   tahu di belahan bumi yang lain ini ada orang makan kulit
 colour guard lebih banyak diatur oleh Gendhis.   melinjo. Ini makanan apa? Aku tak mau makan ini.
 Dadaku mendadak berdebar saat membayangkan  Aku mau bikin mie instan atau menggoreng telur saja,
 wajah Gendhis. Bukan, bukan berdebar naksir seperti Ryan   tetapi Mama bilang semua itu tidak ada. Mama belum




 24  Misteri Drumben Tengah Malam    Bab 4 Unggahan Menyakitkan  25
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38