Page 38 - Level B1_Isi APa yang lebih seru? SIBI.indd
P. 38

Perkataan  itu  sontak  menimbulkan  goncangan                                  “Sejak kapan ada Kuncen perempuan?”  tanya Utari







            dahsyat  di  hati  Jalu.  Empat  belas  tahun  hidup  dan                       sambil mempersembahkan senyum yang  paling  manis.

            tinggal  di  Kampung  Naga,  Jalu  merasa  tak  pernah                              Sejurus kemudian,Utarikembalisibukmengunyah




            mendengar larangan semacam itu. Kuncen tidak boleh                              cilok.  Satu  sisi hati Jalu  bergetar menerima informasi




            pergi  dari  Kampung  Naga?  Ah,  masa  sih?  Jalu  ingat                       yang  begitu  tiba-tiba, sisi hati yang  lain makin kuat










            dengan jelas, Uwak Tatang  juga sering  pergi, keluar                           merencanakan pelariannya.


            dari Kampung  Naga.
                                                                                                “‘Marahnya jangan lama-lama, ya.’ Tah, jangan








                “Memang, tapi enggak pernah  lama, kan?”  Utari                             manyun wae, katanya teh,”  uca  Utari menirukan isi









            membenarkan rasa sangsi Jalu.                                                   surel dari Abah.




                Jalu  menyetujui kebenaran ucapan Utari. Uwak                                   “Kamu  ikut  baca email dari Abah?” Jalu temberang.






            Tatang  tidak pernah meninggalkan Kampung  Naga







            dalam waktu  yang  lama. Ini karena, menurut  Utari,                                “Yup.  Tadi.  Tak sengaja.  Maaf,”  tutur Utari, santai.


            Uwak tidak boleh  meninggalkan kewajibannya                                         “Enggak sopan!” cecar Jalu.






            memimpin upacara dan urusan-urusan adat  lainnya.
                                                                                            Jalu  sebal  karena  Utari  tak  menanggapi.  Hati  Jalu

                Jalu  mulai menyadari bahwa upacara adat  dan                               makin panas.



            ritual yang  ada di Kampung  Naga hampir semuanya                                   “Ah,  peduli  amat!  Saya  enggak  peduli.  Saya  mau





            menyertakan Uwak sebagai pemimpin.  Hajat  sasih,                               kabur,” tukas Jalu penuh tekad.









            upacara nyepi, panen raya, perkawinan, dan lain


            sebagainya, Uwak tidak pernah  absen.  Mendengar itu,


            kening  Jalu  mengernyit.



                “Yang  Kuncen kan Uwak, bukan saya,”  kilah  Jalu.

                “Yang  gantinya Kuncen kan kamu, bukan Abah,”






            timpal Utari.



                “Itu  kan  tugas kamu.  Bukan  saya.  Kan anak Uwak

            Tatang  kamu.”  Jalu  merasa tersudut.
                                                                                                                                  Bab 3
                                                                                                                          Email dari Jepang  31
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43