Page 39 - Level B1_Isi APa yang lebih seru? SIBI.indd
P. 39
Perkataan itu sontak menimbulkan goncangan “Sejak kapan ada Kuncen perempuan?” tanya Utari
dahsyat di hati Jalu. Empat belas tahun hidup dan sambil mempersembahkan senyum yang paling manis.
tinggal di Kampung Naga, Jalu merasa tak pernah Sejurus kemudian,Utarikembalisibukmengunyah
mendengar larangan semacam itu. Kuncen tidak boleh cilok. Satu sisi hati Jalu bergetar menerima informasi
pergi dari Kampung Naga? Ah, masa sih? Jalu ingat yang begitu tiba-tiba, sisi hati yang lain makin kuat
dengan jelas, Uwak Tatang juga sering pergi, keluar merencanakan pelariannya.
dari Kampung Naga.
“‘Marahnya jangan lama-lama, ya.’ Tah, jangan
“Memang, tapi enggak pernah lama, kan?” Utari manyun wae, katanya teh,” uca Utari menirukan isi
membenarkan rasa sangsi Jalu. surel dari Abah.
Jalu menyetujui kebenaran ucapan Utari. Uwak “Kamu ikut baca email dari Abah?” Jalu temberang.
Tatang tidak pernah meninggalkan Kampung Naga
dalam waktu yang lama. Ini karena, menurut Utari, “Yup. Tadi. Tak sengaja. Maaf,” tutur Utari, santai.
Uwak tidak boleh meninggalkan kewajibannya “Enggak sopan!” cecar Jalu.
memimpin upacara dan urusan-urusan adat lainnya.
Jalu sebal karena Utari tak menanggapi. Hati Jalu
Jalu mulai menyadari bahwa upacara adat dan makin panas.
ritual yang ada di Kampung Naga hampir semuanya “Ah, peduli amat! Saya enggak peduli. Saya mau
menyertakan Uwak sebagai pemimpin. Hajat sasih, kabur,” tukas Jalu penuh tekad.
upacara nyepi, panen raya, perkawinan, dan lain
sebagainya, Uwak tidak pernah absen. Mendengar itu,
kening Jalu mengernyit.
“Yang Kuncen kan Uwak, bukan saya,” kilah Jalu.
“Yang gantinya Kuncen kan kamu, bukan Abah,”
timpal Utari.
“Itu kan tugas kamu. Bukan saya. Kan anak Uwak
Tatang kamu.” Jalu merasa tersudut.
Bab 3
Email dari Jepang 31