Page 460 - THAGA 2024
P. 460
Dalam perjalanan, Nabila terbangun kala sebuah
panggilan masuk ke gawainya. Raut wajahnya tampak gusar
dan terlihat ekspresinya manyun kala mengakhiri telepon. Aku
yang memahami situasi segera menurunkan volume musik di
kabin kendaraan. Saat suara mulai agak hening, akhirnya dia
membuka percakapan.
“Mas Gal, apa sebaiknya saya lepas dari pasangan saya,
ya? Selain toxic, dia juga posesif. Kalo saya pikir-pikir lagi,
hidup saya malah gak lebih baik,” ungkapnya resah.
Aku berpikir sejenak. “Aku gak bisa ikut campur masalah
hubunganmu sebenernya, Nab. Tapi kalo menurutmu itu gak
baik buat kamu, ya kenapa harus takut untuk melepas. Kamu
saja kemaren yang jelas ada ikatan pernikahan berani ngelepas,
lah ini belum ada ikatan apa-apa masa kamu takut. Pacaran
itu, kan sebenarnya hanya teman yang kamu buat-buat sendiri
ikatannya.”
“Saya sebenernya butuh pelarian, Mas Gal. Cuman sama
yang ini saya diposesifi.”
“Tapi aku kayaknya juga aneh sama kamu, Nab. Masa
kamu gak paham kalau dia udah jelas nyakitin kamu tapi kamu
tetep pertahanin dia. Kalo boleh jujur, feelingku lain. Tebakanku
nih, ya, kamu kayaknya juga dapat pemenuhan kebutuhan dari
dia.”
Kutatap wajah Nabila yang memerah. Punggungnya tampak
ditegakkan. “Mas Gal bisa baca orang, kah?” Tatapannya
gelisah. “Saya malu ngomongnya, Mas Gal.”
“Iya aku tau, Nab, kalau menurutmu dia bisa memuaskan
hasratmu, ya, gak masalah kalo kamu mau tetep bertahan sama
dia. Tapi kalo masalahnya diposesifin, ya, kamu harus pinter-
pinter main belakang kalau jalan sama cowok lain, semisal
sama aku gini.”
452 THAGA
GALGARA