Page 14 - EBOOK_Renasans Jogja
P. 14
nama-nama kampung menunjukkan rumah tradisional yang juga banyak Kelima, faktor vegetasi sebagai
kelompok-kelompok masyarakat yang terdapat. Kebanyakan berada di pendukung lingkungan dan memiliki
menempati tempat tinggal tertentu lokasi kalurahan Jagalan, Alun-alun, makna khusus dalam tradisi budaya
atas dasar profesi, status sosial, nama Prenggan, Basen, Purbayan, yang Jawa, terdapat di kompleks makam raja
orang, istilah yang berhubungan menurut sejarah merupakan lokasi Mataram (a) Di halaman pintu masuk
dengan aktivitas pertanian, serta nama- beradanya keraton Mataram. Rumah de pan, terdapat dua pohon beringin
nama tertentu yang mempengaruhi tersebut pada umumnya didirikan yang salah satunya, yang terle tak di
tata kota Kotagede . pada pertengahan abad 19, walaupun sebelah kanan pintu masuk, milik
2
ada beberapa rumah yang diba ngun Surakarta, roboh dengan membawa
Keempat, faktor arsitektur rumah sebelum kurun waktu tersebut. Tentu korban 3 rumah hancur, pada
kediaman, arsitektur rumah kediaman saja untuk waktu sekarang, jumlah di pertengan Maret 1990, serta empat
sangat menonjol di Kotagede. Hal ini atas sudah berkurang. 2010 tercatat pohon kanthil. (b) Di halaman masjid
disebab kan karena ragam bangunan di tinggal 70-100an. Hal ini karena besar Mataram terdapat enam pohon
Kotagede sangat terbatas. Ada empat be berapa pertimbangan seperti: sawo kecik, dua pohon kelapa gading,
ragam bangunan yang menonjol, ketidakmampuan memelihara, ke- satu pohon kanthil. (c) Di halaman
yakni: rumah kediaman, masjid butuhan tata ruang yang berubah, juru kunci makam terdapat dua pohon
agung peninggalan kerajaan Mataram, juga bagi waris, beberapa rumah pada kweni, dua pohon kanthil, satu pohon
bangunan yang berada di kompleks dasa warsa 80an telah diruntuhkan nangka. (d) Di ha laman selanjutnya
makam Panembahan Senapati dan dan diganti dengan bangunan ber- terdapat lima pohon nagasari, dua
pasar Kotagede. Masjid agung hanya corak modern, contoh: rumah Amat pohon kweni. (e) Di halaman kolam
satu, makam relatif tertutup dan untuk Dalem Mustahal, rumah eks Kanjeng Seliran terdapat tujuh pohon kelapa
14 memasukinya diperlukan syarat-syarat Martalaya di Citran, dijual, dan lain gading. Pada dasawarsa 60an yang
tertentu, pasar hanya satu, itupun telah sebagainya. Rumah tertua yang tercatat lalu di halaman depan rumah-rumah
berulangkali mengalami perubahan. adalah milik Prawiraharja di kampung penduduk Kotagede, umumnya
Hanya rumah kediaman yang banyak Citran yang dibangun 1750. Rumah terdapat pohon jeruk kingkit sebagai
terlihat dan terdapat di Kotagede tradisional dalam tata ruang, tetapi lambang rizki.
dengan ciri-ciri yang berbeda dengan dengan bentuk kampung yang relatif
rumah kediaman di tempat lain. termuda adalah milik Ngudirahardja Keenam, faktor pendukung sebagai
Konsep arsitektur tradisional Jawa di kampung Basen dibangun 1942 . pusat kerajinan tra disional Jawa. Di sini
3
adalah bagian dari sistem kebudayaan Terdapatnya banyak rumah kediaman kerajinan rakyat—khususnya logam
Jawa yang bertumpu pada keraton dengan arsitektur tradisional yang mulia emas dan perak untuk konsumsi
seba gai pusat orientasi. Maka rumah leng kap dengan kondisi pada keraton pada masa lalu, dan un tuk
kediaman dengan arsitektur tra disional umumnya terpelihara, membuat Ko- keperluan pariwisata serta komoditas
membentuk citra fisik Kotagede tagede cukup representatif sebagai yang lebih luas pada saat sekarang—
sebagai kawasan de ngan karakter Jawa. lingkungan kota tradisional Jawa. telah berkembang dan menjadi salah
Ada tiga atau empat periodisasi satu identitas Kotagede sebagai kota
Rumah tradisional Jawa meliputi arsitektur bangunan di kotagede (1) Jawa. Di masa masa lalu sampai akhir-
berbagai bentuk dari yang pa- Corak Hindu Jawa Islam abad 16- akhir ini, perak menjadi primadona
ling sederhana seperti panggang 17 (2) Corak Jawa Islam abad 17-19 walaupun diantara kerajinan di
pe, kampung, limasan, sampai (3) Corak Indisch abad 20 awal dan Kotagede juga muncul kerajinan
ke bentuk joglo sebagai puncak kemudian (4) Corak modern kekinian tanduk kerbau, penyu, kayu bahkan
arsitektur Jawa. Di Kotagede pada yang tidak jelas formatnya karena lebih kulit. Pernah hidup pula tenun lurik
1985 terdapat sekitar 170 rumah dibangun berdasar alasan pragmatis dan batik.
bentuk joglo, di samping rumah- fungsional.

