Page 119 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 119

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               lingkungan,  spesies  ternak,  bentuk  fisik  ransum,  jumlah  ransum  yang  dikonsumsi  dan
               komposisi bahan pakan yang diberikan (Mulyono dkk.,  2009. Protein adalah molekul makro
               yang terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino yang terkait satu sama lain dengan ikatan
               peptida,  yang  sangat  diperlukan  dalam  tubuh  ternak    (Sudarmono,  2007).  Fungsi  protein
               dalam tubuh ternak unggas adalah untuk memeperbaiki pertumbuhan jaringan, metabolisma
               untuk energi, enzim bagi tubuh seperti dalam proses pecernaan dan hormon (Murtidjo, 2006).
               Tinggi  rendahnya  kecernaan  protein  dipengaruhi  oleh  kandungan  protein  dalam  bahan
               penyusun  ransum  dan  banyaknya  protein  yang  masuk  dalam  saluran  pencernaan  (Widodo
               dkk., 2013). Semakin tingginya kecernaan protein akan mempermudah metabolisme protein
               sehingga secara langsung juga akan meningkatkan PBBH (Mahfudz, 2006).

               Laju Digesta
                      Laju  digesta  merupakan  waktu  yang  dibutuhkan  pakan  untuk  melalui  saluran
               pencernaan. Laju digesta pada unggas relatif lebih cepat karena saluran pencernaan unggas
               yang pendek (Anggorodi, 1994). Laju digesta pakan dalam saluran pencernaan unggas yaitu 2
               –  4  jam  (Agus,  2007).  Laju  digesta  dipengaruhi  oleh  beberpa  faktor  yaitu  genetik,  umur,
               kandungan nutrisi dan lingkungan (Hutapea, 2003). Komposisi ransum terutama kandungan
               serat  kasar  yang  tinggi  pada  suatu  bahan  pakan  dapat  mengurangi  ketersediaan  energi  dan
               mempengaruhi kecepatan laju digesta dalam saluran pencernaan (Budiansyah, 2009). Bahan
               pakan yang mempunyai laju aliran yang cepat secara langsung akan meningkatkan konsumsi
               ransum, begitu juga sebaliknya (Ramli dkk, 2005). Laju digesta yang lambat menyebabkan
               banyak  nutrien  yang  dapat  dicerna  dan  diserap  tubuh,  karena  enzim  menghidrolisis  zat
               makanan lebih lama, sehingga nutrien untuk jaringan tubuh dapat meningkat (Mangisah et al.,
               2009).

               pH Usus
                      Penyerapan  nutrisi  dalam  pakan  memerlukan  fungsi  saluran  pencernaan  yang  baik
               agar  dapat  mengoptimalkan  proses  pencernaan.  Keseimbangan  mikroba  dalam  sistem
               pencernaan  berperan  penting  bagi  kesehatan,  kecernaan  pakan  dan  efesiensi  produksi
               (Kompiang, 2009). Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba dalam saluran
               pencernaan unggas adalah  umur, respon imunitas, pakan dan pemberian antibiotik (Barrow,
               1992). Di usus halus terjadi berbagai penyerapan berbagai nutrisi penting  yang terkandung
               pada bahan pakan (Martin  et al., 2013). Pemberian pakan fermentasi mampu memperbaiki
               mikroflora  pada  saluran  pencernaan  terutama  bakteri  asam  laktat  (BAL),  sehingga  dapat
               meningkatkan kesehatan ayam broiler dan penyerapan nutrisi. Bakteri patogen yang hidup di
               saluran pencernaan yaitu Sallmonella dan Escherichia coli (E.coli).


               3.  Materi dan Metode

                      Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 Juli  – 15 Agustus 2016 di Kandang Ayam
               Fakultas  Petenakan  dan  Pertanian,  Universitas  Diponegoro,  Semarang.  Materi  yang
               digunakan yaitu 160 ekor DOC dengan bobot awal rata-rata 47,75 ± 2,71 g, kandang koloni
               ukuran  1x1x1,5  m,  tempat  pakan  dan  minum,  lampu,  timbangan,  desinfektan,  blower,
               nampan, peralatan kandang dan pisau. Setiap petak perlakuan berisi 8 ekor DOC. Komposisi,
               persentase dan kandungan nutrien ransum disajikan pada tabel 1.
                      Onggok yang digunakan yaitu onggok yang difermentasi dengan A. charticola yang
               merupakan kapang yang diisolasi dari gathot. Proses pembuatan fermentasi onggok diawali
               dengan  pembuatan  starter.  Starter  dibuat  dengan  cara  melakukan  peremajaan  A.  charticola
               pada  medium  Potato  Dextrose  Agar  (PDA).  A.  charticola  sebanyak  10  cawan  petri
               dicampurkan ke dalam onggok steril dan ditambahkan aquades dengan perbandingan 1 liter


                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”     108
   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124