Page 193 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 193
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
kelemahan yaitu pertumbuhannya relatif lambat (Darmadja, 1990) dan memiliki jarak beranak
yang panjang 18,5 bulan (Darmadja, 1980). Kalau dilihat pola pemeliharaan sapi Bali selama
ini sebagian besar masih dipelihara secara tradisional dengan pola kandang berpindah-pindah
dengan pakan yang disesuaikan dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Sehingga
pertumbuhan dan jarak beranaknya relatif panjang.
Pakan ternak sebagai peran utama dalam program peningkatan produktivitas ternak
menyumbang porsi 70-75 % dari total biaya produksi . Untuk itu diperlukan langkah-langkah
perbaikan teknologi yang dapat mengantisipasi dan sekaligus meningkatkan produktivitas
sapi Bali. Langkah tersebut dapat berupa pemberian pakan tambahan pada induk sapi yang
sedang bunting yaitu pada saat 2 (dua) bulan pra melahirkan sampai 2 (dua) bulan pasca
melahirkan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan janin yang mengalami
peningkatan yang pesat pada sepertiga terakhir daripada umur kebuntingannya (pada 90 hari
terakhir), dan masa laktasi tertinggi terjadi 115 hari pasca lahir. Sukarini (2000) melaporkan
bahwa perbaikan mutu pakan dapat meningkatkan fungsi sel-sel kelenjar ambing sehingga
meningkatkan produksi susu yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan pedet.
2. Materi dan Metoda
Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Desember 2016. bertempat
di kelompok ternak Sega Mandiri Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.
Penelitian ini menggunakan 18 ekor sapi betina bunting dengan berat berkisar antara 250-350
kg/ekor pada fase kebuntingan ke-2 sampai ke-4 kali. Ke 18 ekor sapi tersebut dipelihara
oleh petani kooperator. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3
Perlakuan, masing-masing perlakuan menggunakan 6 ekor induk sapi Bali yang sedang
bunting 7 bulan sebagai ulangan. Adapun perlakuan sebagai berikut : P1 = Pemberian
rumput dan leguminosa (cara petani). P2 = seperti P1 + Bio-cas 5 cc / ekor /hari. P3 =
Seperti P2 ditambah dedak 2 Kg + Bio-cas 5 cc / ekor /hari.
Sapi-sapi tersebut diberikan pakan dasar berupa hijauan unggul secara ad libitum
terdiri dari jenis rumput-rumputan (rumput gajah, rumput raja, rumput lapangan) dan
leguminosa (gamal, lamtoro, kaliandra) dengan perbandingan 7 : 3 (70% rumput-rumputan :
30% leguminosa) dilaksanakan oleh petani dan dibina serta diawasi oleh detaser. Sapi
tersebut dipelihara di dalam kandang menetap (permanen) berlantai semen dan beratap asbes.
Dedak diberikan selama 4 bulan, yaitu 2 bulan sebelum melahirkan (kebuntingan berumur 7
bulan) sampai 2 bulan setelah melahirkan ( sampai dengan umur anak sapi mencapai 2
bulan). Pemberian pakan tambahan ini diharapkan dapat meningkatkan fungsi organ
reproduksi, meningkatkan berat lahir dan mempercepat proses pemulihan kondisi tubuh induk
sapi pasca melahirkan. Sedangkan untuk mengetahui bobot lahir dan perkembangan bobot
anak sampai sapih, anak sapi /pedet ditimbang pada saat dilahirkan atau paling lambat 24 jam
setelah lahir sampai berat sapih. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis
dengan analisa sidik ragam berdasarkan Program GenStat Release 12.2 dengan tingkat
kesalahan 1 – 5 %. Apabila pengujian sidik ragam menunjukkan pengaruh perbedaan yang
nyata , maka pengujian diantara rataan dua perlakuan dilakukan dengan LSD.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 182

