Page 363 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 363

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               ekonomi sektoral relatif lebih cepat dibanding laju pergeseran tenaga kerja, dimana titik balik
               aktivitas ekonomi di Indonesia lebih dulu tercapai dibanding titik balik tenaga kerja (labor
               turning  point)  (Manning,  2000).  Saat  ini  pembangunan  di  pedesaan  telah  mengakibatkan
               terjadinya  berbagai  perubahan,  terutama  pada  struktur  ekonomi  dan  budaya  masyarakat
               pedesaan,  khususnya  petani.  Asumsi  lama  dan  klasik  yang  menyatakan  bahwa  penduduk
               pedesaan  adalah  kebanyakan  petani  subsisten  (yang  dapat  memproduksi  untuk  dikonsumsi
               sendiri)  sudah  tidak  berlaku  lagi  (Lokollo,  2001).  Tetapi  pada  kenyataannya,  masih  sering
               dijumpai  rumah  tangga  petani  di  pedesaan  yang  menjual  produksi  bahan  makanan  mereka
               yang tergolong berkualitas, kemudian uang hasil penjualan tersebut digunakan untuk membeli
               bahan  makanan  yang  kualitasnya  lebih  rendah.  Hal  tersebut  menunjukkan  bahwa  terdapat
               upaya untuk memaksimumkan konsumsi dari segi kuantitas.
                      Secara rasional tujuan dari suatu rumahtangga khususnya adalah rumahtangga petani
               adalah  untuk  memaksimalkan  kepuasan  (utility).  Dalam  hal  tersebut  suatu  rumahtangga
               dihadapkan pada tiga macam kendala, yaitu : alokasi waktu, produksi dan pendapatan total.
               Sebagai model dasarnya, kendala produksi usahatani rumahtangga petani diasumsikan sebagai
               fungsi penggunaan faktor produksi tetap dan total alokasi tenaga kerja untuk usahatani (input
               variabel). Dalam alokasi tenaga kerja seluruh anggota rumahtangga harus mempertimbangkan
               biaya oportunitas waktu dari masing – masing anggota rumahtangganya. Alokasi waktu antar
               komoditi dan diantara anggota – anggota yang efisien akan menyebabkan alokasi kerja yang
               berbeda  di  antara  mereka  (Becker,  1965).  Fungsi  produksi  rumahtangga  merupakan
               akumulasi dari penggunaan faktor produksi tetap yaitu total dari pengalokasian tenaga kerja
               dan penggunaan faktor produksi dari sarana produksi seperti bibit, pupuk dan pestisida, serta
               dari penggunaan input variabel yang lainnya. Pada faktor produksi tetap dalam hal ini berupa
               fisik  yang  penting  bagi  produksi  pertanian  adalah  penggunaan  lahan.  Dimana  lahan
               merupakan  salah  satu  komponen  didalam  agroekosistem.  Menurut  Winanta  dan  Susanto
               (2001) tipologi suatu agroekosistem lahan terdiri dari lima tipe yaitu : (1) lahan sawah irigasi,
               (2) lahan tadah hujan, (3) lahan kering, (4) lahan kering daerah aliran sungai bagian hulu, dan
               (5) lahan pasang surut termasuk didalamnya lahan daerah surutan waduk.
                      Kondisi  peneltian  di  Dusun  Patuk  Baran  yang  terbagi  wilayahnya  menjadi  areal
               persawahan  (lahan  basah)  dan  areal  pertanian  lahan  kering.  Persawahan  pada  umumnya
               adalah  pertanian  lahan  basah  dengan  sistem  irigasi  atau  pengarian  yang  lebih  baik
               dibandingkan dengan pertanian lahan kering. Perbedaan tipologi jenis lahan inilah nantinya
               akan berpengaruh terhadap produktivitas hasil pertanian. Maka dari itu dapat dibentuk suatu
               rumusan pertanyaan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana produksi usahatani (on farm) setiap
               rumahtangga petani pada tipologi agroekosistem yang berbeda antara lahan basah dan lahan
               kering.  Secara  umum  tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk  menganalisis  pengaruh  faktor
               produksi usahatani (on farm) rumahtangga petani pada lahan basah dan lahan kering di Dusun
               Patuk Baran Desa Sukolilo Kecamatan Wajak Kabupaten Malang.


               2.  Tinjauan Pustaka
               Telaah Penelitian Terdahulu
                      Rochaeni  dan  Lokollo  (2005)  melakukan  penelitian  tentang  faktor  –  faktor  yang
               mempengaruhi  keputusan  ekonomi  rumahtangga  petani  di  Kelurahan  Situgede  Bogor
               menjelaskan  bahwa  pencerminan  strategi  rumahtangga  untuk  hidup  sejahtera  ditunjukkan
               oleh  alokasi  waktu  kerja  anggota  rumahtangga  untuk  kegiatan  mencari  nafkah,  pekerjaan
               rumahtangga  dan  kegiatan  lainnya.  Tiap  kegiatan  anggota  rumahtangga  ditujukan  untuk
               mencapai nilai guna menghasilkan kesejahteraan. Penelitian menggunakan model persamaan
               simultan yang diduga dengan metode 2SLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu kerja
               anggota  rumahtangga  petani  di  Kelurahan  Situgede  Bogor  lebih  banyak  ditujukan  pada




                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”    352
   358   359   360   361   362   363   364   365   366   367   368