Page 364 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 364
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
nonusahatani daripada usahatani padi, karena pendapatan dari nonusahatani lebih besar.
Curahan waktu kerja suami pada nonusahatani berpengaruh negatif dan memberikan respon
inelastis terhadap curahan waktu kerja suami pada usahatani padi, tetapi berpengaruh positif
dan memberikan respon elastis terhadap pendapatan suami dari nonusahatani. Kontribusi
pendapatan rumahtangga petani dari usahatani padi 27,32 persen dan dari nonusahatani 72,68
persen. Pengeluaran total rumahtangga petani 73,29 persen dari total pendapatan, yang terdiri
dari konsumsi 50,52 persen dan investasi 22,77 persen.
Penelitian Kirom dkk. (1989) di Daerah Aliran Sungai Jratunseluna menginformasikan
bahwa rumahtangga laha kering dengan jumlah tanggungan antara 2,5 sampai 4 jiwa mampu
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari apabila memiliki lahan seluas 0,5 hektar. Apabila
rumahtangga lahan kering tersebut memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar, kebutuhan hidup
hanya dapat dipenuhi dengan melakukan pekerjaan off-farm. Demikian halnya pada hasil
penelitian Herliana (2001) dan Negoro (2003) tentang ekonomi rumahtangga industri kecap di
Kabupaten Majalengka dan industri kecil Gerabah di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Hasil
studi tersebut menyatakan bahwa kebijakan harga output dapat meningkatkan produksi dan
pendapatan pada rumahtangga pengusaha dan peningkatan upah dapat meningkatan
pendapatan pada rumahtangga pekerja.
Konsep Agroekosistem
Kriteria yang digunakan dalam karakteristik agroekosistem meliputi faktor-faktor
ekosistem, sosial, ekonomi, dan teknologi konservasi yang sesuai dengan kondisi daerah
setempat. Sedangkan tipologi agroekosistem lahan terdiri dari lima tipeyaitu : (1) lahan sawah
irigasi, (2) lahan tadah hujan, (3) lahan kering, (4) lahan kering daerah aliran sungai bagian
hulu, dan (5) lahan pasang surut termasuk didalamnya lahan daerah surutan waduk (Winanta
dan Susanto, 2001).
Konsep Usahatani
Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu yang
diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang telah
dilakukan atas tanah, sinar matahari, dan bangunan-bangunan yang diberikan diatas tanah
tersebut (Tjondrokusumo, 1984). Menurut Hernanto (1991) usahatani adalah organisasi dari
alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Pengertian
organisasi usahatani dimaksudkan usahatani sebagai organisasi harus ada yang diorganisir dan
ada yang mengorganisasi. Yang mengorganisasi usahatani adalah petani yang dibantu
keluarganya, yang diorganisasi adalah faktor produksi yang dapat dikuasai, makin maju
usahatani makin sulit bentuk dan cara pengorganisasiannya.
Konsep Ekonomi Rumah Tangga
Dalam studi ekonomi rumahtangga yang dilakukan oleh Becker (1965) dalam
formulasinya menyatakan bahwa terdapat dua proses perilaku rumahtangga petani, yaitu : (1)
proses produksi rumahtangga petani dan (2) proses konsumsi rumahtangga petani. Dalam
penelitiannya, Becker menerapkan fungsi kepuasan sederhana dari konsumsi barang-barang
dalam ekonomi rumahtangga petani, dimana dalam analisisnya lebih menekankan pada
alokasi waktu, karena terdapat keterkaitan antara proses produksi dan proses konsumsi pada
rumahtangga petani.
Model rumahtangga petani (Agricultural Household Model, AHM) adalah suatu
pendekatan analisis yang digunakan untuk menganalisis hubungan keterkaitan antara
keputusan produksi dan konsumsi yang mencerminkan perilaku rumahtangga petani. Bentuk
dasar model ini dirumuskan oleh Singh, Squire dan Strauss (1986). Inti dari model AHM
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 353

