Page 377 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 377

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               terhadap  nilai  utama  (mean/central  value).  Definisi  tersebut  sejalan  dengan  pemikiran
               Ledebur (2012) yang menjelaskan bawa volatilitas adalah hal yang dapat menunjukkan arah
               dari  perubahan  suatu  variabel.    Selain  itu  definisi  serupa  dikemukakan  oleh  FAO  (2011)
               dengan  definisinya  bahwa  volatilitas  sebagai  variasi  pada  variabel  ekonomi  dari  waktu  ke
               waktu  misalnya  variasi  harga  pertanian  dari  waktu  ke  waktu.  BIAC,  (2011),  kemudian
               mendefinisikan volatilitas sebagai gambaran dari ketidakstabilan harga ekstrim yang bersifat
               sangat  tidak  pasti  untuk  waktu  dan  dampaknya  berpotensi  sangat  merusak,  dan  kebijakan
               yang saat ini tidak cukup baik dikembangkan atau diimplementasikan dalam praktek untuk
               dapat mengatasi masalah yang ada.
                        Kemudian dalam FAO (2012) menjelaskan  lebih lanjut bahwa tidak semua variasi
               harga menjadi masalah misalnya saat harga bergerak dengan halus dan tren yang stabil atau
               memiliki  pola  musiman  yang  telah  diketahui.  Tapi  variasi  harga  menjadi  masalah  saat
               variasinya  besar,  tidak  dapat  diantisipasi  dan  menciptakan  level  dari  ketidakpastian  dan
               meningkatkan  resiko  petani,  pedagang  maupun  konsumen  dan  pemerintah  dan  mungkin
               berdampak pada kebijakan yang salah. Penerapan volatilitas dicerminkan dengan harapan dari
               pelaku pasar terhadap bagaimana volatile price (ketidak pastian harga) akan terjadi dan dan
               menilai presentasi dari penyimpangan dari harga di masa depan dari nilai yang diharapkan.
                        Christopher, dkk (2011) menyampaikan bahwa harga menjadi volatile apabila harga
               tersebut tinggi karena saat penawaran menurun dan terjadi lojakan permintaan sehingga harga
               akan menjadi lebih variable sehingga tidak hanya menyebabkan harga meningkat tetapi juga
               menjadi volatile. Hal ini didukung oleh pendapat Schnepf (2005) dalam Lepetit (2011) yang
               merepresentasikan  volatilitas  harga  merupakan  salah  satu  faktor  penting  yang  dapat
               menyebabkan resiko dalam penawaran, teutama untuk produk pertanian yang bersifat lebih
               volatile karena pengaruh iklim, inelastic demand,dan ketidakpastian produksi.
                        Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat ditarik sebuah benang merah bahwa
               volatilitas harga merupakan ketidakpastian harga yang bersifat sangat ekstrim karena harga
               meningkat/menurun dengan variasi yang sangat besar dari nilai utamanya, terjadi secara tiba-
               tiba,  tidak  dapat  diprediksi,  sulit  untuk  diantisipasi  karena  adanya  beberapa  ganguan
               (misalnya,  ketidakseimbangan  permintaan  dan  penawaran)  sehingga  dapat  meningkatkan
               resiko  yang  dihadapi  oleh  semua  pelaku  pemasaran.  Dimana  semakin  meningkatnya
               volatilitas  harga  maka  ketidakpastian  harga  dimasa  depan  menjadi  semaki  tinggi  (Lepetit,
               2011). Jika demikian maka resiko yang akan dihadapi oleh setiap pelaku pemasaran dimasa
               depan  juga  menjadi  semakin  besar.  Dengan  adanya  penelitian  mengenai  analisis  volatilitas
               harga dan transmisi harga dapat memberikan informasi sebagai acuan kebijakan pemerintah
               untuk menghadapi harga dimasa depan.
                        Terkait dengan penilaian volatilitas harga yang terjadi sekarang dan dimasa depan,
               penilaian volatilitas tersebut dibagi dalam dua kelompok yaitu historical (realised) volatility
               and an implicit future volatility (Komisi Eropa, 2009),Matthews (2010) dalam Hecheut 2011).
               Historical Volatility didasarkan pada pengamatan harga pada masa  yang telah lalu. Hal ini
               menunjukkan  bagaimana  volatilitas  harga  yang  terjadi  pada  masa  lalu.  Sedangkan  implicit
               future  volatility  berdasarkan  harapan  pasar    pada  bagaimana  volatile  harga  akan  berada  di
               masa depan sebagaimana diukur oleh nilai pilihan harga.
                        Beberapa penelitian terakhir seperti penelitian Jordan 2007, Leppetit 2011, O’Connor
               2011,  dan  lain  sebagainya  telah  banyak  dengan  menggunakan  analisis  dengan
               mengaplikasikan  multivariate  GARCH  models  dalam  melihat  historical  vollatility  atau
               “backward-looking”  dari  data  harga.  Jenis  volatilitas  lainnya  yang  disampaikannya  adalah
               implied vollatility yang mempunyai pengertian searah dengan implicit vollatility yaitu menilai
               volatilitas harga dengan “forward-looking” dari data harga.
                        Implied  vollatility  merupakan  estimasi  pasar  terhadap  bagaimana  volatilitas  harga
               dimasa depan dapat terjadi sejak sekarang sampai batas waktu yang diinginkan. Dengan kata





                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”    366
   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381   382