Page 380 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 380
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
mengalami surplus gula sebesar 4.765,7 juta ton setiap tahunnya, namun demikian hal ini
tidak dapat menjamin akan terjadinya kestabilan penawaran gula dunia, dikarenakan masih
bergejolaknya jumlah konsumsi gula pasir dunia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor,
antara lain peningkatan pendapatan, pertambahan jumlah penduduk, tinggi rendahnya daya
beli masyarakat.
Selain dari segi produksi, kebijakan pemerintah di berbagai negara eksportir dan
importir menyebabkan rendahnya harga gula dunia dan meningkatkan volatilitas harga gula
dunia. Selain itu, keadaan pasar gula domestik yang tidak sehat juga menjadi penyebab lebih
cepatnya kenaikan harga gula domestik dibandingkan dengan harga gula dunia, yang
kemudian mempengaruhi pergerakan volatilitas harga gula domestik. Ketersediaan gula
domestik menunjukkan bahwa produksi tebu yang akan diolah menjadi gula tidak mampu
memenuhi konsumsi gula domestik. Presentase pemenuhan konsumsi oleh produksi semakin
menurun dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2013, produksi tebu yang akan diolah
menjadi gula menutupi setengah dari jumlah konsumsi. Hal ini disebabkan oleh semakin
menurunnya produksi domestik sementara konsumsi semakin meningkat.
Selain permasalahan diatas, dugaan terjadinya prakterk kartel dalam perdagangan gula
domestik diduga menjadi faktor yang mendorong tingginya tingkat volatilitas harga gula
domestik. Adanya praktek kartel ini akan memberikan dampak bagi perekonomian gula.
Kemampuan kartel dalam menguasai pasar membawa kecenderungan kelompok tersebut akan
menempuh cara yang dapat memaksimalkan keuntungan dengan mengorbankan kondisi
perekonomian secara makro. Kartel merupakan perjanjian pengaturan antara pelaku usaha
dalam pasar yang sama dengan tujuan untuk memaksimalkan tingkat keuntungan. Pelaku
usaha sering menempuh strategi pembentukan kartel dengan tujuan merespon adanya perang
harga (price war) dan ketidakstabilan pasar, mempertahankan harga dan tingkat keuntungan
tinggi, serta mempertahankan eksistensi pelaku usaha di pasar (Silalahi, 2013).
Dalam perdagangan gula domestik pendistribusian gula dari pabrik gula dilakukan
dengan sistem tender. Yang mana kebijakan ini memberikan ruang yang luas bagi para pelaku
kartel, terutama terjadinya praktek kartel utama (hard core cartel) yang meliputi kartel
penetapan harga, persengkongkolan tender, pembatasan output, dan pembagian wilayah.
Kemungkinan terjadinya kartel utama ini sangat membahayakan terhadap kestabilan harga
gula domestik karena para pelaku kartel melakukan konspirasi mengenai hal-hal yang sangat
pokok dalam suatu transaksi bisnis, seperti harga, wilayah, dan konsumen. Kartel dapat
berprilaku seperti monopoli pasar sehinga menciptakan praktek persaingan yang tidak sehat.
Keadaan perdagangan gula domestik yang demikian dan keadaan produksi serta
industri gula domestik yang tidak sehat tersebut, menyebabkan semakin tidak efisiennya
produksi gula dalam negeri dan semakin tingginya biaya transaksi dalam perdagangan gula,
yang kemudian berimpas pada kenaikan volatilitas harga gula domestik. Selanjutnya, karena
pasar gula domestik terintegrasi dengan pasar gula dunia maka kenaikan volatilitas yang
terjadi pada harga gula dunia akan segera direspon dengan kenaikan volatilitas harga gula
domestik. Restriksi perdagangan tersebut diakibatkan karena saat ini negara eksportir dan
importir gula dunia mempunyai kepentingan masing-masing, sehingga proses pembentukan
harga gula dunia juga ditentukan oleh intervensi kebijakan dari pemerintah terhadap gula.
5. Kesimpulan dan Saran
Volatilitas spillover pada seri harga nominal cenderung dalam bentuk positive manner,
artinya setiap kenaikan volatilitas harga gula dunia akan ikut direspon dengan kenaikan harga
gula domestik. Hal ini berbeda pada seri harga riil yang cenderung dalam bentuk negative
manner, artinya penurunan harga gula dunia kemungkinan akan direspon sebaliknya dengan
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 369

