Page 400 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 400
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
dikembangkan dan dipraktekkan secara optimal dilapangan jika tidak diimbangi dengan
peningkatan kemampuan atau ketrampilan penyuluh. Pendidikan dan pelatihan kerja
diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan dan mengembangkan
kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan (Undang-
Undang Ketenagakerjaan, 2003).
Selanjutnya, dalam Undang-undang No.16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan
Pertanian Perikanan dan Kehutanan (SP3K) pasal 4b menyatakan bahwa fungsi sosial
penyuluhan adalah mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke
sumber informasi, teknologi dan sumberdaya lainnya agar mereka dapat menggembangkan
usahanya. Dalam hal ini, penyuluh pertanian secara tidak langsung mengharuskan penyuluh
untuk mengikuti perkembangan teknologi dan informasi global sekaligus mampu
memanfaatkan Information and Communication Technologies atau TIK. Dalam jurnal
Cahyono (2016) bahwa Information and Communication Technologies (ICT) merupakan
salah satu ketrampilan dan kebutuhan yang perlu dimiliki oleh penyuluh dalam mendukung
pekerjaaan dilapangan.
Lebih lanjut, untuk membuat program pelatihan, para ahli dibidang pengembangan
Sumberdaya Manusia seperti Mayo dan Du Bois, (1987), Goad, (1982), Nedler (1982) dengan
The Critical Events model (CEM), Morrison, Ross dan Kemp (2004) dan ahli lainnya telah
menyajikan berbagai jenis model pelatihan dengan asumsi dan kekhasan masing-masing.
Pada kesempatan ini, penulis memilih model Analysis (analisis), Design (desain),
Development (pengembangan), Implentation (implementasi), dan Evaluation (evaluasi) yang
disingkat ADDIE dari Molenda (2003). Model pelatihan ini dipilih didasarkan pertimbangan,
proses dan pengembangan pelatihan berurutan tetapi juga interaktif, dan hasil evaluasi setiap
tahap dapat membawa pengembangan pembelajaran ke tahap sebelumnya.
Tujuan dari penelitian ini ialah membuat program pelatihan Penyuluh Pertanian
Lapang yang berbasis model ADDIE dan materinya disesuaikan dengan hasil penelitian
(Cahyono, 2016) dalam jurnal yang berjudul “ Challenges Facing Extension Agents in
Implementing the Participatory Extension Approach in Indonesia: A Case Study of Malang
Regency in the East Java Region”.
2. Program Pelatihan
Menurut William B. Werther dan Keith Davis dalam bukunya “Human Resources and
Personnel Management” (1996) mengatakan bahwa langkah-langkah dalam mempersiapkan
program pelatihan adalah melalui langkah berikut. Pertama, Need Assessment (penilaian dan
identifikasi kebutuhan). Penilaian kebutuhan mendiagnosa masalah-masalah dan tantangan
lingkungan yang dihadapi organisasi sekarang. Selain pendekatan sumber daya manusia
dalam mengidentifikasikan suatu tugas, pelatih memulai dengan mengevaluasi gambaran
suatu pekerjaan penting yang diperoleh. Kedua adalah sasaran-sasaran pelatihan dan
pengembangan. Sasaran ini mencerminkan perilaku dan kondisi yang diinginkan dan
berfungsi sebagai standar-standar dimana prestasi kerja individual dan efektivitas program
pelatihan dapat diukur. Ketiga, menyusun Program Content (isi program). Isi program
ditentukan oleh identifikasi kebutuhan-kebutuhan dan sasaran-sasaran pelatihan. Apapun
isinya, program pelatihan hendaknya memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi dan peserta.
Tahapan keempat adalah mendesain Learning Principle (prinsip-prinsip belajar). Ada
beberapa prinsip belajar yang bisa digunakan sebagai pedoman tentang cara-cara belajar yang
paling efektif bagi karyawan. Prinsip-prinsip ini adalah bahwa program pelatihan bersifat
partisipatif, relevan, pengulangan dan pemindahan serta memberikan umpan balik mengenai
kemajuan para peserta pelatihan. Semakin terpenuhinya prinsip-prinsip tersebut, pelatihan
akan semakin efektif. Disamping itu, perancang program pelatihan perlu juga menyadari
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 389

