Page 395 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 395
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
60% kota dan 40 % pedesaan. Dari survey awal diperoleh informasi bahwa usaha
pertanian/peternakan yang telah ditekuni petani kota paling tidak pada lima tahun terakhir
menunjukkan tren yang meningkat walaupun lahan disekitarnya pelan tetapi pasti telah
beralih fungsi, hal ini membuktikan bahwa usaha pertanian yang dilakukan mampu
berkontribusi penting dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan mungkin dapat
berkontribusi terhadap ketahanan pangan secara lokal (rumah tangga dan kawasan
sekitarnya), kawasan perkotaan di Surabaya bagian barat berpotensi untuk dikembangkan
menjadi pertanian lahan basah, pertanian semusim, bagian Utara dan Selatan untuk pertanian
tahunan, sedangkan bagian timur sangat cocok untuk kawasan wisata pantai. Motivasi dan
kompetensi petani perkotaan ditunjang dengan dukungan finansial dan kebijakan Pemerintah
akan memiliki pengaruh nyata terhadap keberlanjutan pemanfaatan lahan untuk pertanian di
masa depan. Hanani (2010) menerangkan bahwa studi yang berkaitan dengan pertanian
perkotaan saat ini semakin berkembang terutama mengkaji tentang permasalahan kesehatan
masyarakat, menganalisis permasalahan ketahanan pangan, terjadinya banjir, efisiensi
energi, peningkatan kualitas udara danperubahan iklim serta resiko terjadi hilangnya habitat
oleh pembangunan, dan pencegahan terjadinya kejahatan (Mazeereuw, 2005). Dalam
uraiannya Hanani (2010) juga menguraikan bahwa dengan semakin bervariasinya studi
tentang pertanian perkotaan berimplikasi terhadap definisinya yang terus berkembang dan
bervariasi sebagaimana banyak dijumpai dalam berbagai literatur baru, namun yang sering
dijadikan acuan adalah definisi yang dikembangkan oleh Aldington, 1997; FAO, 1999;
Mougeot, 1999; Nugent, 1997; Quon, 1999; Smit, 1996; Bailkey and Nasr. 2000;
Baumgartner dan tulisan Belevi, 2007. Dengan menggunakan teori-teori tersebut pertanian
perkotaan (Urban farming) dapat dimanfaatkan sebagai sebuah usahatani, proses
pengolahan, dan proses ditribusi dari berbagai komoditas pangan, termasuk diantaranya
sayuran, perikanan dan peternakan di daerah perkotaan (di pinggir atau di dalam kota) untuk
mampu memberikan pasokan pangan lokal dalam kaitannya dengan ketahanan pangan.
2. Perkembangan Pertanian Perkotaan
Ketahanan pangan memiliki komponen utama yang terdiri dari ketersediaan komoditi,
akses pasar dan pemasaran, dan penyerapan pangan, sedangkan outcome dari ketahanan
pangan berupa status gizi masyarakat. Komponen ketersediaan komoditi, akses, dan
penyerapan pangan harus dipenuhi secara utuh tidak boleh tertinggal salah satunya. Apabila
salah satu komponen tidak dipenuhi maka suatu negara belum layak dikatakan telah
memiliki ketahanan pangan yang kuat. Walaupun pangan dalam kondisi tersedia cukup baik
di tingkat nasional maupun regional, tetapi apabila ternyata akses individu untuk dapat
memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan di negara tersebut
masih dikatakan rapuh. Dalam tulisan Bakker, et al. (2000) menunjukkan kenyataan bahwa
pertanian perkotaan merupakan salah satu pilihan yang mampu mengatasi ketahanan pangan
di tingkat rumah tangga. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Haletky dan Taylor (2006)
yang menyatakan bahwa pertanian kota menjadi salah satu komponen kunci keberhasilan
pembangunan sistem pangan masyarakat yang berkelanjutan dan apabila dirancang secara
cermat dan tepat akan dapat menyelesaikan masalah kerawanan pangan. Kisah sukses
pertanian di Kuba yang mampu menyelamatkan rakyatnya dari kelaparan adalah pertanian
kota (urban agriculture), mereka mengembangkan pertaniannya menggunakan teknologi
yang disebut “organoponicos” dimana saat ini Kuba punya lebih ratusan ribu organoponicos,
pertanian kota di negara tersebut menempati 3,4% lahan perkotaan. Maret 1998, kira-kira
50% produksi sayuran Kuba didapatkan dari pertanian kota. Sampai dengan tahun 2008
sistem pertanian perkotaan di Kuba mampu menghasilkan lebih dari 1,4 juta ton makanan dan
terus berkembang dengan pesat dimana pada tahun 2000 tingkat asupan kalori rakyat Kuba
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 384

