Page 390 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 390

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               memberikan  kontribusi  tinggi  dalam  pengembangan  agroindustri  yang  dampaknya
               memberikan  keuntungan  atau  laba  kepada  pihak  yang  berkepentingan  dalam    agroindustri
               yaitu,    petani,  pengelola  dan  pekerja  agroindustri,  serta  pemerintah.  Masalah  yang  umum
               dihadapi dalam agroindustri adalah mutu bahan baku alam hasil pengolahan pascapanen yang
               di  bawah  standar  (nasional  dan/atau  internasional),  konsistensi  mutu,  dan  kadangkala  juga
               konsistensi  kuantitas  atau  ketersediaannya.  Contoh  problem  yang  berkaitan  dengan  mutu
               adalah  seperti  kebersihan,  mikotoksin,  rendahnya  kandungan  zat  aktif  dan  pemalsuan.
               Penyebab masalah-masalah ini antara lain adalah musim, bencana alam, dan faktor
               sosial
                       Fermentasi menggunakan kotak kayu berukuran (60 x 60 x 20) cm dengan jumlah biji
               20 - 60 kg, bila jumlahnya kurang dari 20 kg diperlukan perlakuan tambahan. Biji yang telah
               melewati fermentasi ditandai dengan warna cokelat gelap pada 80% kulit luar biji, lendir yang
               melekat  pada  biji  mudah  dilepas,  dan  apabila  kakao  dipotong  penampangnya  berwarna
               cokelat dan tidak ada warna ungu.Kuantitas bahan baku yang akan digunakan dalam produksi
               olahan  sangat  penting  diperhitungkan,  karena  akan  mempunyai  dampak  untuk  menjaga
               kelancaran  produksi.  Agar  bahan  baku  dalam  agroindustri  dapat  tercukupi  secara  tepat
               jumlah, perlu perencanaan persediaan dan perhitungan yang cermat.
                      Harga  bahan  baku  merupakan  faktor  penting  dalam  pengembangan  agroindustri,
               karena  biaya  yang  dikeluarkan  selama  produksi  60%  didominasi  oleh  harga  bahan  baku.
               Harga  bahan  baku  kakao  fermentasi  sangat  fluktuatif  dan  bergantung  pada  harga  kakao
               internasional.  Untuk itu, agar agroindustri dapat menutupi biaya produksi yang cukup besar,
               agroindustri harus dapat memilih bahan baku yang berkualitas baik sehingga menghasilkan
               produk dengan kualitas bagus dan sesuai selera konsumen.
                      Kapasitas produksi sangat penting ditentukan sebelum proses pengolahan dilakukan.
               Efisiensi  proses  produksi  merupakan  bagian  dari  hasil  proses  pengolahan  yang  bertujuan
               untuk  merencanakan,  dan  mengendalikan  aliran  material  ke  dalam,  di  dalam,  dan  keluar
               agroindustri  sehingga  keuntungan  optimum  yang  menjadi  tujuan  perusahaan  dapat  dicapai
               dan  mengurangi  pemborosan  selama  pengolahan  yang  berdampak  pada  biaya  menjadi
               minimum.Standar  bahan  baku  yang  digunakan  adalah  biji  kakao  yang  melewati  proses
               fermentasi  dan  kadar  air  7  %,  sehingga  memiliki  cita  rasa,  aroma,  dan  warna  yang  baik.
               Penggunaan  lemak  kakao  dalam  produk  olahan  dan  tanpa  campuran  bahan  pengawet
               menghasilkan produk yang baik untuk dikonsumsi oleh konsumen dalam jangka waktu yang
               lama.
                      Produk olahan dari agroindustri kakao yang ada di Sumatera Barat telah mendapatkan
               izin industri dari Depkes RI, akan tetapi masih belum melakukan uji produk olahannya guna
               mendapatkan sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia). Sertifikasi SNI berguna untuk:  (1)
               melindungi konsumen dari segi kesehatan, (2) menjamin perdagangan pangan yang jujur dan
               bertanggung jawab, (3) diversifikasi produk, (4)  mendukung perkembangan industri, dan (5)
               meningkatkan pemasarannya, baik di dalam maupun di luar negeri.
                      Harga jual untuk lemak kakao yaitu Rp 100.000 per kg, dan harga jual bubuk kakao
               yaitu Rp 60.000 – Rp 80.000 per kg. Harga jual untuk 1 kg pralin/permen cokelat yaitu Rp
               100.000,-  – Rp 150.000,-  sedangkan kemasan per 250 gram dijual dengan harga Rp 30.000,-
               untuk produk minuman bubuk cokelat kemasan per 250 gram dijual dengan harga Rp 25.000,-
               sedangkan produk kosmetik berupa lulur cokelat dihargai Rp. 10.000 per kemasan. Kemasan
               menggunakan bahan aluminium foil yang dibeli dari luar provinsi Sumatera Barat yang telah
               diberi label agroindustri tersebut.

               Aspek Sosial
                      Dukungan pemerintah yang terkait dengan agroindustri kakao merupakan aspek sosial
               yang menjadi faktor penentu keberhasilan dalam pengembangan agroindustri kakao. Produk





                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”    379
   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395