Page 391 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 391

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               kakao selama ini lebih banyak diekspor  dalam wujud biji kering kakao dibandingkan hasil
               olahannya,  sehingga  nilai  tambahnya  bagi  perekonomian  menjadi  sedikit.  Diduga  yang
               menjadi  faktor  pendorong  adalah  selain  harga  yang  semakin  tinggi,  juga  pembebasan  tarif
               ekspor sehingga tanpa pengolahan lebih lanjut setelah fermentasi dan pengemasan biji kakao
               sudah  dapat  diekspor.  Hal  ini  menyebabkan  petani  menjadi  malas  untuk  melakukan
               fermentasi  yang  merupakan  bahan  baku  dalam  pengolahan  kakao  selanjutnya  (Maswadi,
               2011).
                      Pada tahun 2007 pemerintah telah membuat kebijakan yang pro industri pengolahan
               kakao dalam negeri, yaitu dengan dihapuskannya pajak pertambahan nilai (PPN) 10% untuk
               setiap  kakao  yang  dibeli  pabrik  di  dalam  negeri.  Kebijakan  tersebut  masih  belum
               memperbaiki  iklim  industri  pengolahan  kakao  dalam  negeri  sehingga  pada  tahun  2010
               pemerintah secara resmi menetapkan kebijakan  Bea Keluar (BK) secara progresif terhadap
               ekspor biji kakao melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.67/PMK.011/2010 tentang
               penetapan barang ekspor yang dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.

               Aspek Lingkungan
                      Faktor  –  faktor  penentu  keberhasilan  di  aspek  lingkungan  dapat  diartikan  sebagai
               kegiatan yang secara langsung berinteraksi dengan lingkungan fisik yang mencakup sumber
               daya alam, seperti tanah, air serta flora dan fauna maupun terhadap kehidupan masyarakat,
               sehingga  dapat  mewujudkan  agroindustri  yang  ramah  lingkungan  dan  dapat  memperbaiki
               lingkungan yang ada. Limbah agroindustri harus diupayakan seminimal mungkin dan tidak
               mencemari  lingkungan.Berikut  ini  adalah  faktor-faktor  keberhasilan  pengembangan
               agroindustri pada aspek lingkungan.
                      Kondisi agroklimat Sumatera Barat merupakan faktor keberhasilan dalam menentukan
               pengembangan agroindustri, karena berdasarkan kesesuaian lahan dan agroklimat seperti jenis
               tanah, kesuburan tanah, topografi, ketinggian dan curah hujan seperti yang telah digambarkan
               pada  gambaran  umum  daerah  penelitian,  keadaan  lahan  serta  geografis  di  Sumatera  Barat
               sangat cocok dengan kesesuaian lahan dan agroklimat tanaman kakao sehingga dapat menjadi
               kekuatan  untuk  mengembangkan  tanaman  kakao.  Hal  ini  dikuatkan  juga  dengan  hasil
               penelitian Djaenuddin (2002), bahwa kesesuaian lahan dan agroklimat merupakan salah satu
               komponen  lahan  dan  faktor  yang  menentukan  bagi  kemampuan  produktifitas  lahan  bagi
               pengembangan suatu komoditas pertanian.
                      Dari hasil penelitian yang dilakukan olehDirektorat Pakan Ternak (2012), penggunaan
               kulit  buah kakao dapat digunakan sebagai  substitusi  suplemen  pada ternak  sebanyak 15 %
               atau 5 % dari ransum. Sebaiknya sebelum digunakan sebagai pakan ternak, limbah kulit buah
               kakao  perlu  difermentasikan  terlebih  dahulu  untuk  menurunkan  kadar  lignin  yang  sulit
               dicerna  oleh  hewan  dan  untuk  meningkatkan  kadar  protein  dari  6-8  %  menjadi  12-15  %.
               Pemberian kulit buah kakao yang telah diproses pada ternak sapi dapat meningkatkan berat
               badan sapi sebesar 0,9 kg/ hari.Melalui proses fermentasi, nilai gizi limbah kulit buah kakao
               dapat ditingkatkan, sehingga layak untuk pakan penguat kambing maupun sapi, bahkan untuk
               ransum babi dan ayam.

               Penilaian Faktor-Faktor Keberhasilan
                      Faktor-faktor  keberhasilan  yang  telah  didapatkan,  diberi  penilaian  oleh  3  kelompok
               responden.Peran  dari  tiga  kelompok  responden  dalam  penelitian  ini  adalah  memberikan
               pendapat dan penilaian terhadap faktor-faktor keberhasilan untuk pengembangan agroindustri
               kakao  di  Sumatera  Barat.  Tiga  kelompok  responden  tersebut  berasal  dari  bagian  bidang
               pemasaran dan hasil produksi di Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten,
               pengelola  pabrik  agroindustri  Chokato  dan  New  Adam  dan  petani  kakao  daerah  penelitian
               .Tiga kelompok responden tersebut ditentukan karena sangat memahami mengenai kakao dan





                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”    380
   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395   396