Page 387 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 387
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
IDENTIFIKASI FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN YANG MEMPENGARUHI
PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI KAKAO DI SUMATERA BARAT
1)
2)
Dewi Arziyah danSri Mutiar
1.2 Program Studi TeknologiIndustri Pertanian, Universitas Dharma Andalas, Padang
Korespondensi Penulis: Dewi Arziyah, dewi.a@unidha.ac.id dan srimutiar@unidha.ac.id
Abstrak
Pencanangan Sumatera Barat sebagai sentra kakao di kawasan barat Indonesia oleh Wakil Presiden
semenjak 2006, mengakibatkan jumlah produksi kakao meningkat. Namun, pengolahan pascapanen
yang kurang baik mengakibatkan mutu biji kakao kering sangat rendah, sehingga perlu penanganan
lebih lanjut. Keberadaan agroindustri dapat meningkatkan taraf hidup petani, mengurangi
pengangguran dan meningkatkan pendapatan daerah. Terdapat banyak permasalahan yang dihadapi
dalam pengelolaan agroindustri yang mengakibatkan terhambatnya pengembangan agroindustri
tersebut. Hal ini perlu dikaji untuk pengembangan agroindustri kakao berkelanjutan berbasis faktor
penentu keberhasilan. Metode yang dilakukan pada penelitian yang dilakukan adalah memperolehdata
primer didapatkan dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden, literatur, data dokumenter dari
pihak terkait.
Kata kunci : penentu keberhasilan, agroindustri, kakao
1. Pendahuluan
Kementerian Pertanian telah menetapkan kakao sebagai salah satu komoditas
unggulan dari sub-sektor perkebunan. Eksistensinya akan terus dipertahankan dan bahkan
akan diperluas di masa yang akan datang, antara lain melalui Program Gernas (Mulato,2012).
Umumnya komoditas perkebunan termasuk juga kakao setidaknya memiliki empat peranan
strategis dalam perekonomian nasional seperti yang dijelaskan dalam pedoman teknis
pengembangan kakao rakyat non revitalisasi yaitu sebagai sumber pendapatan masyarakat
terutama mayoritas petani pekebun rumah tangga, sebagai bahan baku agroindustri, sebagai
sumber devisa dan merupakan pasar bagi produk non pertanian berupa sarana produksi dan
alsintan untuk kegiatan produktif pertanian.
Sejak dilaksanakannya program Gernas, luas areal tanaman kakao terus bertambah
dengan jumlah produksi yang terus meningkat. Pada tahun 2012 diperkirakan luas areal
tanaman kakao mencapai 135.048 ha, dengan jumlah produksi 66.588 ton (BPS Sumbar,
2013).Untuk dapat mendapatkan nilai tambah dari peningkatan jumlah produksi kakao,
sebaiknya melakukan pengolahan hasil lebih lanjut, karena jika dijual dalam bentuk mentah
dikhawatirkan petani tidak mendapatkan nilai tambah (added value) dari peningkatan
produksi tersebut. Ditambah lagi nilai jual biji kakao yang difermentasi dan yang tidak
difermentasi tidak berbeda terlalu jauh, sehingga petani menjadi malas melakukan kegiatan
fermentasi. Penetapan bea masuk impor biji kakao juga mendorong petani menggiatkan
hasilnya, dan menggeliatkan pertumbuhan agroindustri di Indonesia, khususnya di Sumatera
Barat. Pembangunan agroindustri kakao di Sumatera Barat diharapkan dapat mendorong
kesejahteraan petani dan meningkatkan pendapatan daerah.
Tahapan dalam agroindustri terdiri dari input, proses produksi dan output. Tahapan
input meliputi bahan baku, bahan penunjang, tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 376

