Page 453 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 453

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               yang  menyebabkan  kurang  lancarnya  kegiatan  pemberdayaan,  BPP  diminta  melaksanakan
               kegiatan pemberdayaan penyuluh dengan anggaran sendiri baru kemudian dana dekon bisa
               dikeluarkan  dari  bakorluh.    Panjangannya  rantai  pencairan  dana,  beragamnya  pemahaman
               persepsi  serta    motivasi,    kurangnya  sosialisasi  dan  koordinasi  antar  pelaksana  merupakan
               faktor lain sehingga program GPPT berjalan lambat.

               Proses
                      Program  GPPT  sendiri  merupakan  program  yang  disusun  demi  perbaikan  kinerja
               penyuluh pertanian yang berbasis di BPP dengan beberapa permasalahan sbb : 1) Laku susi
               belum  optimal;  2)  Kebijakan  nasional  belum  terjabarkan    sampai  di  tingkat  lapangan;  3).
               Desiminasi teknologi belum optimal; 4) Masih adanya ego sektoral; 5.) Peran BP3K belum
               optimal;  6).  Sarpras,  tenaga  penyuluh  dan  pembiayaan  terbatas;  Tantangan  yang  dihadapi
               dalam mewujudkan peningkatan kinerja penyuluh adalah bagaimana mewujudkan sinergitas
               antara  dinas  teknis  penyuluhan  dengan  BPTP,  meningkatkan  pelayanan  penyuluhan  dan
               mendorong  petani  menjadi  anggota  poktan  /gapoktan.  Untuk  menjawab  tantangan  tersebut
               muncul    kebijakan  dari  pemerintah  yaitu  :    1.  Pemantapan  Sistem  Penyelenggaraan
               Penyuluhan,  2.  Pemberdayaan  Peran  &  Fungsi  BP3K  sebagai  Posko  Program  &  Kegiatan
               Pembangunan Pertanian di Kecamatan dengan strategi :  1. Meningkatkan Sinergitas, Dinas,
               Penyuluhan  dan  BPTP,    2.  Penguatan  BP3K,  3.  Pemberdayaan  Penyuluh  Pertanian  4.
               Pemberdayaan Poktan,  Gapoktan, 5. Pengembangan dan Penyebaran Materi  Penyuluhan 6.
               Penguatan Program dan Kerjasama 7. Peningkatan Dukungan Sarana, Prasarana, pembiayaan.
               Berdasarkan permasalahan tersebut akhirnya pemerintah mengucurkan dana disertai dengan
               program yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan penyuluh di tingkat BPP.
                      Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan PPL di Kabupaten Probolinggo secara
               teknis operasional, pelaksanaan  program  GPPT  dilaksanakan sesuai  dengan arahan, namun
               demikian pada prosesnya terdapat  beberapa permasalahan   sehingga hasilnya kurang dapat
               berjalan dengan sempurna.  Berikut disampaikan hasil pengamatan :
               1.  Pada  aspek  Peningkatan  Kapasitas  Kelembagaan  Penyuluh  Tingkat  Kabupaten  kegiatan
                  yang dilakukan adalah Temu Teknis Tingkat Kabupaten dengan materi : a. Pengembangan
                  Data Base, b. Pembinaan, Monev, c. Temu Evaluasi Tingkat Kabupaten, d. Penyusunan
                  dan penyebarluasan materi penyuluhan, permasalahan yang ditemukan adalah kurangnya
                  kemampuan  PPL  dalam  penguasaan  Teknologi  Informasi    dan  materi  penyuluhan  yang
                  diberikan  tidak  didasarkan  pada  kondisi  lapangan,  sehingga  berefek  pada  kuranngnya
                  antusias petani dalam mengikuti kegiatan penyuluhan, kurangnya ketrampilan di bidang IT
                  dikarenakan kebanyakan PPL berusia 50 tahun ke atas, penyusunan materi terkadang tidak
                  disusun sesuai kebutuhan lapangan.
               2.  Pada aspek Peningkatan Kapasitas Balai Penyuluhan Kecamatan ( BP3K ) sebagai Posko
                  Pelaksana  Pembangunan  Pertanian  kegiatan  yang  dilakukan  adalah  :    a.  Temu  Teknis
                  tingkat Kecamatan, b. Rembuk Tani, c. Kursus Tani, d. Farmer Field Day, e. Latihan di
                  BP3K,  f.  Kunjungan  ke  wilayah  binaan.    Permasalahan  yang  ditemui  dari  pemahaman
                  petani  tentang  rembug  tani  masih  partial,  pada  kegiatan  kursus  tani  materi  tidak
                  disesuaikan  dengan  kebutuhan  petani,  pelaksanaan  FFD  membutuhkan  biaya  yang  tidak
                  sedikit serta kurangnya waktu kunjungan ke wibi karena terbatanya waktu.
               3.  Aspek  ketiga  yaitu  Peningkatan  Kapasitas  Kelembagaan  Petanian.  a)  Kegiatan  yang
                  dilakukan adalah  penumbuhan dan pengembangan kelembagaan ekonomi petani   tingkat
                  kecamatan b) Pemberdayaan Kelompok Tani di lokasi sentra  pangan                   (Kursus
                  Tani  Desa,  Rembuk  Tani  Desa,  kunjungan  penyuluh)  Permasalahan  yang  ditemukan
                  adalah  kurangnya    kesadaran  berorganisasi,    lembaga  ekonomi  petani  berkembang,
                  kurangnya  minat  terhadap  perubahan  teknologi,  beragamnya  pemahaman  tentang  suatu
                  permasalahan, jjadwal kunjungan penyuluh yang tidak tepat





                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”    442
   448   449   450   451   452   453   454   455   456   457   458