Page 59 - buku 1 kak emma_merged (1)_Neat
P. 59

Hasril Chaniago, Aswil Nazir, dan Januarisdi



                     dikenal sebagai kaum yang terkemuka dan dihormati di Nagari

                     Ganggo Hilia. Kaum ini memiliki harta yang banyak dan ulayat

                     yang luas. Neneknya dari pihak ibu bernama Hamidah (generasi

                     keempat menurut silsilah), melahirkan empat orang anak, yaitu
                                  12
                     A. Hamid , Baniamin, Raksida, dan Roekajah (baca Rukayah,
                     ibu Mochtar). Sedangkan ayahnya, seorang guru kepala, yang

                     menurut beberapa sumber mendapat kedudukannya berkat

                     pendidikannya di Kweekschool Fort de Kock (Bukittinggi)
                     generasi awal pada paruh kedua abad ke-19. Selain seorang

                     terpelajar, dalam struktur masyarakat adat di Nagari Ganggo

                     Mudiak, Omar adalah pewaris suku asal perintis yang dikenal

                     dengan gelar adat Nan Sajati dari pesukuan Melayu. Gelar “Nan

                     Sajati” merupakan pemuncak dari tiga “payung” (kaum/paruik)
                     pesukuan  Melayu  yang  ada  di  Ganggo  Mudiak.  Meskipun

                     bukan bergelar datuk, tetapi Nan Sajati merupakan pimpinan

                     tertinggi dari tiga datuk pesukuan Melayu yang ada di nagari

                     tersebut.  13
                             Mochtar dilahirkan sebagai anak keempat dari enam

                     bersaudara, buah perkawinan Roekajah dengan Omar.

                     Keenamnya, menurut urut kelahiran adalah Daima (pr),



                     12  A. Hamid Bandaro Sati(lihat foto), pada dekade kedua abad ke-20 menjabat Kepala
                         Laras (Laras Hoofd) Bonjol. Kepala Laras dalam sistem pemerintahan kolonial
                         Belanda di Minangkabau adalah pangkat pejabat pemerintahan paling tinggi
                         yang dapat diisi oleh orang pribumi. Kepala Laras adalah bawahan langsung dari
                         Kontrolir (controleur), pejabat setingkat bupati sekarang, yang semuanya diisi
                         oleh orang kulit putih (bangsa Belanda). Tentang struktur pemerintahan (daerah)
                         kolonial Belanda di Sumatera Barat, lihat Gusti Asnan ( 2006),  Pemerintah
                         Daerah Sumatera Barat dari VOC Hingga Reformasi. Yogyakarta: Citra Pustaka.
                     13  Wawancara dengan Achdi Nofriansyah, panggilan Teddy, pemuka masyarakat
                         Ganggo Mudiak, dan anggota keluarga Nan Sajati, 1 Desember 2020

                                                           30
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64