Page 52 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 JANUARI 2020
P. 52

Dalam UU 13 misalnya, saat ini perusahaan diwajibkan untuk membayar nominal
               pesangon sebesar 13 kali gaji untuk karyawan yang sudah bekerja selama 10 tahun,
               terdiri atas pesangon sebesar 9 kali gaji dan upah penghargaan sebesar 4 kali gaji.
               "Nah itu jumlahnya nanti akan dikurangi, jelas kami menolak," tandasnya.

               Buruh juga menolak usulan fleksibilitas jam kerja seperti diatur dalam draf Omnibus
               Law. Menurut Kahar, para pekerja tetap menginginkan jam kerja yang sudah pasti
               seperti diatur dalam UU 13, yakni 8 jam kerja. "Kami tak mau dengan alasan
               fleksibilitas, lantas jam kerja menjadi lebih panjang dari itu," ujarnya.

               Protes juga datang dari Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia
               (OPSI) Timboel Siregar. Ia berpendapat, penghapusan UMK mustahil dilakukan
               karena biaya di tiap kabupaten/kota berbeda-beda. "Contoh lingkup Jawa Barat, kan
               tak sama antara Ciamis dan Karawang," cetusnya.

               Menurut Timboel, pengusaha jangan terlampau manja dan menganggap UMP
               sebagai satu-satunya beban. Ia berpendapat, masih banyak beban operasional
               pengusaha karena faktor-faktor lain di luar upah.

               Misalnya, pungutan liar (pungli), perizinan, biaya energi yang mahal dan lain-lain.
               "Seperti biaya energi itu harusnya disubsidi oleh pemerintah," ujarnya

               Timboel justru mengusulkan agar ada intervensi pemerintah dalam upah minimum.
               Menurutnya, apa yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta patut
               dijadikan contoh. Di wilayah DKI, pekerja yang mendapat upah minimum mendapat
               subsidi lewat kartu pekerja.

               "Itu bisa digunakan misal buat anaknya mendapat uang sekolah, mengakses
               kebutuhan pokok, kesehatan, dan lain-lain, ujarnya.

               Skema yang diterapkan di DKI bisa diakomodasi dalam RUU Cipta Lapangan Kerja
               sehingga menjadi kewajiban bagi semua daerah. "Jadi insentif bagi para pekerja,"
               ujarnya.

               Terkait pesangon, Timboel juga mengusulkan sistem asuransi PHK. Menurutnya,
               kompensasi PHK, seperti pesangon dan penghargaan masa kerja, harusnya memang
               masuk dalam skema jaminan sosial.

               Jadi ketika ada pekerja masuk, pengusaha harus langsung menyisihkan 8,3% dari
               upah untuk skema jaminan sosial. "Itu sudah diatur dalam Pedoman Standar
               Akuntansi Keuangan (PSAK) pasal 24, sehingga ketika ada PHK, pengusaha tidak
               lagi sibuk mengatur cash flow," jelasnya.

               Wahyu sendiri tak menampik apa yang disampaikan KSPI. Menurut dia, sistem
               pengupahan saat ini cukup rumit karena setiap daerah punya kebijakan menentukan
               upah. "Di tingkat UMP saja saat ini ada 33 UMP, lalu standar mana yang mau
               dipakai?" katanya.



                                                       Page 51 of 74.
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57