Page 933 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 933

BURUH TUNTUT HAK CUTI HINGGA JAM KERJA DI UU CIPTAKER, BEGINI REAKSI
              MENAKER
              Menanggapi 7 tuntutan dari aliansi buruh, mulai dari perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT)
              seumur  hidup,  outsourcing,  tolak  jam  kerja  eksploitatir,  hingga  hak  cuti,  Menteri
              Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah ingin menegaskan poin-poin positif yang terangkum
              dalam Klaster Ketenagakerjaan RUU Cipta Kerja.

              "Terdapat prinsip-prinsip umum yang dipatuhi dalam penyusunan Klaster Ketenagakerjaan RUU
              Cipta Kerja, yang pertama, penyusunan ketentuan klaster ketenagakerjaan memperhatikan hasil
              putusan  Mahkamah  Konstitusi  atas  uji  materi  UU  13/2003,"  ujar  Ida  di  Jakarta,  Selasa
              (6/10/2020).

              Kemudian, ketentuan mengenai sanksi ketenagakerjaan dikembalikan kepada UU 13/2003. Ida
              mengatakan,  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi
              pekerja/buruh PKWT yang menjadi dasar dalam penyusunan perjanjian kerja. Di samping itu,
              RUU Cipta Kerja mengatur perlindungan tambahan berupa kompensasi kepada pekerja/buruh
              pada saat berakhirnya PKWT.

              "Syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi  pekerja  atau  buruh  dalam  kegiatan  Alih  Daya
              (outsourcing) masih tetap dipertahankan. Bahkan RUU Cipta memasukkan prinsip pengalihan
              perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh apabila terjadi pergantian Perusahaan Alih Daya. Hal
              ini sesuai dengan amanat putusan Mahkamah Konstitusi No. 27/PUU-IX/2011," jelas Ida.

              Di samping itu, dalam rangka pengawasan terhadap Perusahaan Alih Daya, RUU Cipta Kerja juga
              mengatur syarat-syarat perizinan terhadap Perusahaan Alih Daya yang terintegrasi dalam sistem
              Online Single Submission (OSS).

              "Ketentuan  mengenai  waktu  kerja  dan  waktu  istirahat  tetap  diatur  seperti  UU  eksisting  (UU
              13/2003) dan menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat
              pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu. Hal ini untuk mengakomodir tuntutan perlindungan
              pekerja/buruh pada bentuk-bentuk hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi
              digital saat ini berkembang secara dinamis," paparnya.

              Sambung dia menyampaikan, RUU Cipta Kerja tetap mengatur hak-hak dan perlindungan upah
              bagi pekerja/buruh sebagaimana peraturan perundang-undangan eksisting (UU 13/2003 dan PP
              78/2015) dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang baru.

              "Terdapat  penegasan  variabel  dan  formula  dalam  penetapan  Upah  Minimum  berdasarkan
              pertumbuhan  ekonomi  dan  inflasi.  Selain  itu,  ketentuan  mengenai  Upah  Minimum
              Kabupaten/Kota tetap dipertahankan. Dengan adanya kejelasan dalam konsep penetapan Upah
              Minimum  dimaksud,  maka  RUU  Cipta  Kerja  menghapus  ketentuan  mengenai  penangguhan
              pembayaran Upah Minimum," ucapnya.



















                                                           932
   928   929   930   931   932   933   934   935   936   937   938