Page 201 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 201

Saat ini, Pemerintah DIY menunggu rekomendasi dari dewan pengupahan kabupaten dan kota,
              melalui bupati dan walikota.
              "Semuanya  rekomendasinya  sembari  menunggu  rekomendasi  juga  dari  dewan  pengupahan
              kabupaten kota, melalui bupati dan wali kota sekaligus bisa kita rumuskan dan ditetapkan UMP
              dan UMK-nya," kata dia.

              Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji menilai bahwa penentuan upah pada
              tahun ini lebih terukur jika dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

              "Yang mengatur aturan menghitung UMP dari Kemenaker, saya kira sekarang ini sudah dapat
              kepastian  negosiasi  tentang  besar  kecilnya  UMP  sudah  tidak  debat  kusir  lagi.  Dulu  itu  satu
              (buruh)  ingin  naik  setinggi-tingginya  yang  satu  serendah-rendahnya  (pengusaha),gubernur
              susah menentukan," kata dia.

              Sedangkan  sekarang  ini  aturan  sudah  jelas,  yang  menentukan  UMP  tergantung  dari  daerah
              masing-masing. Apakah daerah bisa mengendalikan inflasi atau bisa menumbuhkan ekonomi.

              "Kau daerahnya tidak bisa menumbuhkan ekonomi ya UMP-nya kecil, itu bagian dari kesertaan
              para pekerja dan pengusaha. Kalau pekerja dan pengusaha bisa menaikkan ekonomi berarti ada
              kenaikan," katanya.

              Menurut Aji, pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan terakhir tumbuh sekitar 4 persen. Dengan
              kondisi ini, menurut dia, dapat meningkatkan UMP DIY.
              "Kita kan diberi dua pilihan untuk meningkatkan UMP, apakah pertumbuhan ekonomi atau inflasi.
              Di DIY pertumbuhan ekonomi jauh lebih tinggi, kenapa pertumbuhan baik karena ekspor kita
              bagus. Devisa banyak dan pekerja berhak atas kenaikan UMP," ujar dia.

              Disinggung berapa kenaikan UMP di DIY, Aji mengaku masih belum bisa memastikan berapa
              kenaikannya.

              Sekjen  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (KSPSI)  Daerah  Istimewa  Yogyakarta
              (DIY) Irsyad Ade Irawan menyampaikan, pihaknya mengikuti rapat penetapan UMP 2022 DIY,
              tetapi dalam rapat tersebut pihaknya memilih untuk melakukan walk out (WO).

              "Kemarin menginstruksikan ke perwakilan kami agar WO atau keluar dalam rapat pembahasan
              upah  minimum  provinsi.  Alasannya,  dasar  yang  dipakai  UU  Cipta  kerja,  PP  36  tentang
              pengupahan. Padahal, kami menolak UU Cipta kerja," kata Irsyad saat dihubungi wartawan,
              Senin (15/11/2021).

              "Sekarang  sedang  kami  gugat  di  MK.  Jadi  masih  bermasalah.  Masih  bisa  dibatalkan  oleh
              Mahkamah Konstitusi. Tidak etis kalau memakai itu," imbuh Irsyad.

              Menurut dia, penentuan pengupahan dengan Peraturan Pemerintah (PP) 36 dan UU Ciptaker
              menggunakan formula yang aneh atau tidak sesuai karena tidak mencerminkan hidup layak riil
              masyarakat di Yogyakarta.

              Lanjut dia, dalam penentuan menggunakan PP36 dan UU Ciptaker tidak melalui proses survei.
              Tetapi dengan menggunakan rumus yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

              "Tidak ada survei. Dewan pengupahan tinggal menambah, mengurang, dan membagi. Kalau
              seperti itu dewan pengupahan mending dibubarkan saja. Yang ngitung itu PNS di Disnakertrans
              pakai kalkulator, ditambah, dikurang kemudian diumumkan," urainya.




                                                           200
   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206