Page 206 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 206

TUNTUT KENAIKAN UPAH 2022, RATUSAN BURUH GERUDUK KANTOR GANJAR
              PRANOWO

              Serikat buruh di Jawa Tengah melakukan aksi turun ke jalan menuntut kenaikan upah minimum
              kabupaten/kota (UMK) di tahun 2022 sebesar 16 persen. Ratusan buruh yang tergabung dalam
              Aliansi  Buruh  Jawa  Tengah  (ABJT)  ini  melakukan  long  march  dari  titik  kumpul  di  Jalan
              Ronggowarsito, Tanjung Emas.

              Sembari terus berjalan, mereka tampak membentangkan spanduk besar bertuliskan "Batalkan
              Omnibus Law, UMK Tahun 2022 Wajib Naik 16 persen".

              Dalam aksi itu, para buruh juga membawa atribut demonstrasi seperti bendera dan poster-poster
              bertuliskan "Semua Harga Naik, Kecuali Harga Keringat, Tenaga dan Pikiran Kami"

              Lalu ada juga poster bertuliskan "Upah Layak Adalah Hak Kami Untuk Hidup Sejahtera" dan
              "Tolak Upah Murah, Laksanakan Upah Layak Riil".
              Di depan kantor Ganjar Pranowo itu mereka satu per satu bergantian berorasi menuntut upah
              layak demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mencekik.

              Seorang  buruh  perempuan  tampak  meneriakan  yel-yel  dengan  lantang membakar  semangat
              para buruh yang turun ke jalan.

              "Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan! Hidup buruh! Hidup perempuan yang melawan!!," teriaknya
              lewat pengeras suara.

              Buruh lainnya menuntut kepada pemerintah agar tidak main-main dalam menetapkan UMK.

              "Upah ini untuk kita, untuk buruh. Kalau kita tidak mau berjuang pasti pemerintah akan main-
              main dengan yang namanya UMK," katanya di hadapan peserta aksi.

              Korlap  aksi dari  aliansi buruh  Jawa  Tengah,  Karmanto  mengatakan,  para  penentu  kebijakan
              hanya berpikir investasi, tetapi dengan cara menggilas keringat buruh.

              Dalam keterangannya, salah satu bukti nyata kebijakan yang mencekik buruh adalah rencana
              penetapan UMK tahun 2022 yang akan mengacu Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020
              Tentang  Cipta  Kerja  (Omnibus  Law)  dan  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  36  Tahun  2021
              Tentang Pengupahan.

              Dengan  begitu,  penetapan  upah  akan  mengacu  kepada  laporan  Badan  Pusat  Statistik  (BPS)
              mengenai inflasi dan pertumbuhan ekonomi makro.

              Maka dari itu, para buruh menolak keras Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 Tentang
              Cipta  Kerja  (Omnibus  Law)  dan  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan tersebut karena tidak relevan dengan kondisi atau kebutuhan buruh di lapangan.

              "Penetapan UMK 2022 harus dilakukan berdasarkan rumusan UMK berjalan + kebutuhan di masa
              pandemi  Covid  19  =  upah  2022,  bukan  mengacu  inflasi  dan  pertumbuhan  ekonomi,"  jelas
              Karmanto di lokasi demo, Rabu (17/11/2021).

              Pihaknya merinci kebutuhan selama pandemi Covid-19 yang realistis dibutuhkan buruh yakni,
              masker N94 Rp 115.000, hand sanitizer Rp 90.000, sabun cair 150 ml Rp 29.600, vitamin Rp
              75.000, pulsa/kuota Rp 100.000, biaya kenaikan air bersih 50 persen Rp 40.000.






                                                           205
   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211