Page 152 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 MARET 2020
P. 152

Saya tahu persis kenapa saya kalah, dalam kondisi yang tidak banyak logistik.
               Keterbatasan itu dapat 41 persen itu saya bayangkan ada teman-teman yang sudah
               melakukan masa sosialisasi yang panjang.


               Tribun: Perolehan 41 persen itu, apa anda merasa, berapa persen yang
               tercapai dari peranan Anda? Mungkin faktor gender atau NU?  Di NU sendiri
               kan tidak gampang. Waktu itu kan Taj Yasin (calon wakil Gubernur Jateng pada
               Pilkada 2018, Red) kan juga representasi NU.

               Semua orang tahu beliau anaknya Mbah Maimun, semua orang tahu. Tantangan
               saya waktu itu ini tantangan tersendiri bagaimana meyakinkan warga NU bahwa
               warga NU itu siapa yang kira-kira bisa dititipkan Aspirasi.

               Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin adalah putra Kyai Haji Maimoen Zoebair, atau
               akrab dipanggil Mbah Moen.

               Ia ulama besar dan politikus PPP. Ia Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang,
               Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan
               Pembangunan hingga ia wafat di Mekkah, Arab Saudi, 6 Agustus 2019.

               Saya itu datang ke kiai misalnya, itu bisa lebih dari dua kali satu kiai itu. Satu kiai itu
               saya datangi empat sampai lima kali. Dan itulah tantangannya, personal approach.

               Itu salah satu contoh, Jawa Tengah memang basisnya PDIP, tapi kan NU juga kuat
               banget. Selain Jawa Timur kan Jawa Tengah.


               Bagi saya ini tantangan tersendiri. Saya merasa cukup punya basis. Punya basis
               maksudnya saya mantan ketua Fatayat, dengan teman-teman kan bisa bersama-
               sama. Mereka meyakinkan bahwa representasi NU ada di saya.

               Tribun: Apa hikmah dari kalah dalam Pilkada yang Anda bisa petik baik
               untuk gender atau pendidikan politik?  Sebenarnya kalau kalah itu banyak
               faktor. Misalnya logistik (dana kampanye). Tapi logistik tidak menjadi satu-satunya.


               Kalau ada yang beranggapan bahwa pragmatisme masyarakat itu cukup tinggi
               dalam even seperti itu, saya melihat bahwa tidak semua masyarakat itu bisa
               diperlakukan demikian tingkat pragmatisnya tinggi.

               Ida adalah kader Nahdlatul Ulama yang mantan Ketua Umum Fatayat NU, dan 20
               tahun menjadi anggota DPR.


               Saya benar-benar modalnya modal cekak. Bayangkan saya maju Pilkada, besok
               pengumuman, malam ini saya baru memutuskan. Jam 3 pagi saya memutuskan,
               siangnya mengumumkan, saya kan waktunya pendek sekali untuk mempersiapkan
               itu.

               Saya merasa masyarakat masih biasa diajak untuk berdialog, mendiskusikan,
               sepanjang saya berjalan itu saya lebih banyak forum-forum tertutup mendialogkan,
               mendiskusikan, mengajak mereka kira-kira apa yang bisa kita lakukan ke depan.



                                                      Page 151 of 192.
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157