Page 153 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 MARET 2020
P. 153
Saya lebih banyak itu, forum-forum terbatas. Yang banyak mungkin 1.000. Tapi
kalau forum terbatas 50-100 itu menurut saya sangat efektif sekali. Even terbesar
kita ada, dibandingkan mengundang massa yang di atas 5 ribu kecil.
Saya tetap dengan forum yang terbatas, malah saya enak berdialog dan mereka
bisa diajak menjadi pemilih yang cerdas.
Saya optimis bahwa pragmatisme masyarakat iya, tapi kalau kita bisa memberikan
pencerahan itu saya rasa mereka bisa terdidik.
Tribun: Terkait menteri, pada awal membentuk kabinet kerja ini, Presiden
Jokowi mengatakan tidak ada visi dan misi menteri. Hanya ada visi-misi
presiden-wakil presiden. Apa yang Ibu implementasikan untuk
menjalankan misi Presiden Jokowi? Benar tidak ada visi dan misi menteri.
Yang ada hanyalah menteri menjalankan visi dan misi presiden dan wakil presiden.
Begitu juga saya sebagai menteri yang diamanatkan untuk ketenagakerjaan. Maka
kami menjalankan visi dan misi Pak Jokowi.
Dalam konteks menjalankan visi dan misi Jokowi, maka kami konsentrasi pada
pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dengan meningkatkan
kompetensi dan produktivitas.
Kalau dilihat dari tugas itu, maka profile APBN kita di Kementerian Ketenagakerjaan
ini 76 persen diarahkan untuk peningkatan kompetensi dan sumberdaya manusia
kita.
Kita punya pekerjaan yang tidak sedikit, angkatan kerja yang bekerja itu didominasi
oleh yang pendidikannya SMP ke bawah. 57,5 persen, mereka itu pendidikannya
SMP ke bawah.
Bisa dibayangkan dengan profil seperti itu, kompetisi dan produktivitas kita rendah.
Bekerja untuk penempatan dalam negeri dan luar negeri, dengan tingkat pendidikan
seperti itu mereka berada pada low skill.
Mereka yang skillnya terbatas. Jadi di dalam negeri maupun di luar negeri, dengan
profil seperti itu selama ini pekerja migran Indonesia (PMI), dahulu disebut tenaga
kerja Indonesia (TKI), kita didominasi oleh mereka yang low skill semacam domestic
workers (pembantu rumah tangga), yang tidak memerlukan skill tertentu.
Sementara, kita punya pekerjaan yang cukup serius juga.
Dari angka 123 juta angkatan kerja, itu ada 7 juta angka pengangguran kita, di
antaranya, 40 ribu sampai 50 ribu angka pengangguran kita itu ternyata justru
didominasi mereka dengan tingkat pendidikan tinggi.
Jadi yang nganggur itu pendidikannya tinggi, lulusan SMA sampai Perguruan Tinggi,
ini terjadi karena tidak adanya link and match antara pendidikan dan dunia kerja.
Page 152 of 192.

