Page 157 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 MARET 2020
P. 157

Pertama  , pengusaha tidak mau melakukan perundingan walaupun pekerja telah
               meminta secara tertulis kepada pengusaha 2 kali dalam tenggang waktu 14 hari
               kerja.


                Kedua  , perundingan-perundingan yang dilakukan mengalami jalan buntu yang
               dinyatakan oleh para pihak dalam risalah perundingan.

                Sarinah menjelaskan pihak buruh dan manajemen AICE telah mengadakan
               perundingan enam kali, salah satunya difasilitasi oleh Dinas Tenaga Kerja dan
               Transmigrasi. Lima perundingan tersebut tidak pernah menemui kesepakatan, tetapi
               berhasil menghasilkan lima risalah perundingan.


                Sayangnya, tak ada satu risalah pun yang berisikan frasa 'mengalami jalan buntu'
               sebagaimana disyaratkan dalam aturan. Ia bilang yang tercantum hanyalah
               pernyataan 'tidak ada kesepakatan'.

                 Fakta tidak tertulis frasa 'mengalami jalan buntu' disebut Sarinah sebagai alasan
               perusahaan yang berbasis di Singapura itu mengklaim mogok buruh tidak sah.
               Namun, Sarinah mengatakan justru perusahaan sendiri yang bersikeras tidak mau
               menulis frasa 'mengalami jalan buntu'.

                "Itu sudah biasa, pengusaha pada umumnya tidak mau menulis buntu. Mereka
               selalu bersedia berunding, bahkan bisa sampai puluhan kali tapi tidak mau bikin
               risalah ada kata 'buntu' atau '  deadlock  '," jelasnya.

                Menurutnya, tafsir 'mengalami jalan buntu' dalam aturan tersebut tak mengartikan
               wajib tertera tulisan 'mengalami jalan buntu' dalam risalah perundingan. Namun,
               lebih kepada kondisi tak terjadi kesepakatan antara pekerja dan perusahaan.

                "Menurut kami tafsiran 'mengalami jalan buntu' ini bukan tafsiran harus ditulis
               mengalami jalan buntu, tetapi kondisinya," katanya.

                 Ia menyatakan serikat pekerja akan menempuh upaya non litigasi (di luar
               pengadilan) guna menuntut hak mereka. Bersama buruh lainnya, ia mengaku akan
               terus menyerukan kampanye boikot AICE. Mereka juga telah meminta bantuan dari
               serikat buruh dari negara tetangga, Filipina.

                "Kami tidak mau pesangon, kami maunya bekerja kembali dengan kondisi kerja
               yang sesuai dengan undang -undang," imbuh dia.

                Untuk diketahui, selisih hubungan industrial antara perusahaan dan buruh sudah
               berlangsung sejak 2017. Perselisihan keduanya bahkan sempat menjadi buah bibir
               di media sosial.

                Buruh mempersoalkan berbagai kondisi kerja yang dirasa tak ideal dengan
               ketentuan undang-undang yang berlaku. Mulai dari penurunan upah, pekerja
               kesulitan mengambil cuti, perempuan hamil bekerja hingga malam hari, bonus
               dibayarkan dengan cek kosong, pelanggaran hak buruh kontrak, dan lainnya.





                                                      Page 156 of 192.
   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162