Page 42 - Berita Omnibus Law Cipta Kerja 17-18 Februari 2020
P. 42

dan tidak pernah diminta pandangan oleh menko perekonomian, masuk ke dalam tim yang dibentuk
               berdasarkan SK Menko Perekonomian No.121 Tahun 2020," tegas dia.

               Rusdi memastikan bahwa KPSI tidak bertanggung jawab terhadap setiap pasal di Omnibus Law Cipta
               Kerja. "Karena draf nya sendiri sudah diserahkan pemerintah ke pimpinan DPJR Ibu Puan Maharani,"
               ujarnya.

               Namun  pernyataan  berbeda  dilcemukakan  oleh  Menko  Perekonomian  Airlangga  Hartarto,  yang
               memastikan  pembahasanmenge-nai  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja  sudah  melibatkan  seluruh
               konfederasi serikat pekerja. Sehingga menurutriya sudah tidak ada lagi masalah mengenai isi daripada
               draf omnibus law tersebut. "Jadi beberapa konfederasi 10 konfederasi sudah diajak dialog. Dengan
               menteri tenaga kerja," ujarnya di temui di DPR, Jakarta.

               Tidakhanya  itu.  Presiden  KSPI  Said  Iqbal  menyebut  bahwa  RUU  Omnibus  LawCipta  Ke  rja
               menghilangkan  pesangon  untuk  para  pekerja.  Sebab,  dalam  aturan  tersebut  dihapus  mengenai
               perjanjian kerja untuk waktu tertentu.

               "Dalam draf RUU Cipta Kerja menghapus pasal 59 UU 13 tahun 2003, yakni mengenai perjanjian kerja
               untuk waktu tertentu. Dengan demikian kerja kontrak bisa diterapkan di semua jenis pekerjaan,"
               ujarnya.

               Dalam  draf  RUU  tersebut  juga  disebutkan  tidak  ada  batasan  waktu  sehingga  kontrak  kerja  bisa
               dilakukan seumur hidup sehingga pekeija tetap akan semakin langka. "Karena statusnya kontrak kerja,
               bisa  dengan  mudah  dilakukan  pemutusan  hubungan  kerja(PHK)  dengan  alasan  habis  kontrak  dan
               kemungkinan tidakada lagi pesangon, karena pesangon hanya untuk pekeija tetap," kata Said.

               Selain  itu,  pengusaha  dengan  mudah  melakukan  pemutusan  hubungan  kerja(PHK)dengan  alasan
               selesainya  suatu  pekerjaan.  "Akibatnya,  pengusaha  bisa  gam-pang  melakukan  PHK  dengan  atau
               efisiensi karena order atau pekerjaannya sudah habis. Sedangkan bagi pekerja kontrak yang di PHK
               karena selesainya suatu pekerjaan, padahal masa kontraknya belum berakhir, tidak lagi menepatkan
               hak sesuai dengan sisa kontraknya. Tetapi hanya mendapatkan kompensasi," ujarnya.
               Dia menegaskan bahwa kompensasi hanya diberikan kepada pekeija yang memiliki masa kerja paling
               sedikit satu tahun. Hal itu, kata Iqbal, akan mendorong perusahaan untuk mempekerjakan pekerja
               kontrak  kurang  dari  satu  tahun."Pilihan  enam  hari  keija  dan  tujuh  hari  keija  dihapus,  sehingga
               memungkinkan pengusaha untuk mengatur jam keqa secara fleksibel, " kata anggota tim perumus UU
               No  13  Tahun  2003  tentang  Ketenagakerjaan  dan  Undang-Undang  No  2  Tahun  2004  tentang
               Pengaduan Perburuhan itu.
               Hal itu, kata dia, dikarenakan dalam draf RUU tersebut hanya disebutkan waktu kerja paling lama
               delapan jam dalam satu hari dan 40 jam dalam satu pekan. "RUU ini membuka kemungkinan ' pekeija
               dipekerjakan  tanpa  batasan  waktu  yang  jelas,  sehingga  kelebihan  jam  kerja  setelah  sehari
               bekerjadelapanjam tidak dihitung lembur," ujar Iqbal.

               Oleh karena itu, KSPI menolak RUU Cipta Kerja karena dianggap merugikan buruh. KSPI juga akan
               melakukan aksi besar-besaran selama draf RUU tersebut dibahas DPR. "Aksi ini tidak hanya di Jakarta,
               tetapi juga di daerah," tutur Said.

               Dia menyayangkan langkah pemerintah yang tidak melibatkan perwakilan buruh dalam pembahasan
               RUU Omnibus Law Cipta Keija. "Bahwa KSPI selaku perwakilan buruh, tidakpemah di undang dan
               dimintai pandangan-pandan-gan oleh Menko perekonornian (Airlangga)," ujarnya

               Karena itu, KSPI menegaskan bahwa tidak bertanggung jawab terkait pembentukan Undang-Un-dang
               Omnibus Law Cipta Kerja yang dicanangkan pemerintah. "Tidak bertanggung jawab terhadap setiap
               .pasalnya, jika ada yang mencantumkan tanpa seizin KSPI," ujarnya.
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47