Page 166 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 166

Kadang banyak media mengklaim dirinya sebagai berita tentang PRT. Tapi jatuhnya
               mereka bukan mendidik PRT migran yang ada. Itu yang membuat saya gelisah
               banget. Harusnya ada dari kita sendiri, yang tahu kebutuhan kita, yang benar-benar
               mengorbankan diri, mewakafkan tenaga dan waktunya untuk ini. Itulah yang
               membuat saya mengajak teman-teman sesama pekerja rumah tangga untuk
               membuat sebuah tim, kemudian jadilah kami mendirikan migranpos.

               Berangkat dari kegelisahan Yuli Riswati atas tidak berimbangnya pemberitaan
               seputar kehidupan pekerja rumah tangga yang tidak berspektif PRT, Yuli mendirikan
               migranpos.com. Media jurnalisme warga berbahasa Indonesia itu berdiri pada 28
               Maret 2019 dengan bantuan wartawan Metro TV, Aryo Adityo. Hingga kini tercatat
               ada enam anggota yang mengelola migranpos.com yang aktif melakukan reportase
               seputar kehidupan buruh migran di Hong Kong.


               Bagaimana cara Anda mengelola migranpos?

               Awal migranpos terbentuk, saya pikir saya harus punya tim, harus punya teman
               untuk kerja. Kemudian di situ saya mengajak sesama buruh migran, teman terdekat
               satu, kemudian ngajak temen lagi


               Aku juga bilang ke teman-teman di situ (migranpos) aku enggak bisa dapat uang,
               kita enggak ada uang, aku enggak bisa menjanjikan uang, tapi aku bisa menjanjikan
               belajar bersama. Jadi kita akan berproses belajar bersama dalam dunia literasi.
               Bagaimana menjadi citizen journalism dengan belajar dari buku, belajar dari praktik,
               kemudian bermanfaat untuk sekitar kita.

               Memang awalnya ada banyak teman-teman buruh migran yang ikut, tapi akhirnya
               berguguran. Mereka merasa, "Udah libur seminggu satu kali, masih harus capek-
               capek baca buku, nulis enggak pernah bener".

               Karena meski itu media kami sendiri, kami enggak mau sembarangan, ngawur, atau
               salah, typo kayak gitu. Saya berperan sebagai editornya, jadi tulisan teman-teman
               tidak serta merta langsung bisa dipublikasikan. Kadang teman-teman ada yang nulis
               tiga sampai empat naskah itu enggak semuanya naik.

               Anda juga aktif di organisasi serikat buruh, apa saja kegiatannya?

               Di serikat buruh Indonesia Migrant Workers Union, untuk pekerja migran Indonesia
               yang ada di Hong Kong, kegiatan mereka basic-nya sebagai paralegal. Jadi
               mendampingi teman-teman yang bermasalah hukum perburuhan. Jadi memberikan
               konseling,  menanggapi isu-isu seputar pekerja rumah tangga.

               Saya sendiri bergabung dengan BMI, Buruh Migran Indonesia, dan bekerja sama
               dengan FPR (Front Perjuangan Rakyat). Di sini kami menanggapi demonstrasi,
               menanggapi isu terbaru pemerintah apa yang kira-kira berpotensi merugikan PRT.
               Jadi lebih kayak kegiatan yang sifatnya  progresif. Selain itu juga ada kegiatan hobi,
               seperti seni tari dan menggambar. Tentunya kegiatan yang memberdayakan lainnya
               seperti workshop hukum perburuhan dan menulis.




                                                      Page 165 of 176.
   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171