Page 167 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 167

Memang fokus dari serikat buruh adalah menyoroti hak-hak PRT di Hong Kong
               karena enggak semua pekerja migran Indonesia di Hong Kong itu sadar akan
               haknya, mengetahui hukum yang ada seperti apa. Itulah yang bermasalah.


               Teman-teman migran tidak paham akan hak dan hukum yang berlaku seperti apa,
               jika diputus kontrak enggak dikasih pesangon pun ya sudah menganggap hal
               tersebut sebagai nasibnya saja. Padahal kan enggak seperti itu. Ada hak -hak yang
               bisa dituntut. Enggak semua orang tahu. Itu bagian yang diambil serikat buruh
               untuk mendidik komunitasnya, untuk mengetahui hak-haknya. Termasuk
               mendampingi dan turut memperjuangkan.

               Seberapa banyak buruh migran di Hong Kong yang ikut berserikat?

               Saya sendiri kan udah nggak aktif, karena saya memilih jalan untuk menulis itu. Jadi
               lebih independen. Tapi meskipun saya sudah nggak di serikat buruh itu saya diam-
               diam bikin sebuah fanpage, di situ melayani independent counseling BMI. Saya
               melayani teman-teman yang bertanya, bikin paspor kayak apa, ada masalah apa, ini
               cara ngitung gaji gimana, cara ngitung cuti.

               Kesadaran berserikat mungkin kurang, tapi teman-teman juga nggak kalah akal sih.
               Kayak gini, teman-teman pekerja migran Indonesia di Hong Kong itu punya banyak
               organisasi. Karena mereka punya banyak kemauan, banyak punya passion---ada
               organisasi make up, fotografi, menulis, hiking, dancing. Teman-teman yang sudah
               punya kesadaran berserikat tadi berupaya meng-cover mereka, enggak memaksa
               orang-orang untuk berserikat atau berasosiasi. Jadi mereka membangun jaringan,
               kayak LIPMI, Liga Pekerja Migran Indonesia. Anggotanya ada serikat Buruh Migran
               Indonesia itu tadi, IMWU. Kemudian di situ ada organisasi dancer, kesenian, menari,
               semua dirangkul.


               Terus kemudian kayak Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia, dia membikin jaringan,
               namanya Pilar, Persatuan BMI Tolak Overcharging. Di situ juga anggotanya ada
               organisasi dancer lah, organisasi yang entah itu hanya jalan-jalan, hiking, organisasi
               yang cuma doyan jalan ke pantai atau apa, itu dirangkul semua. Kemudian di situ
               pelan-pelan dimasukkan kesadaran tentang hukum perburuhan, tentang upaya
               untuk bergerak.

               Jadi bergerak di jalan masing-masing tapi tetap saling mendukung dan dalam
               gerakan yang sama, demi kemajuan dan hak-hak pekerja rumah tangga migran.

               Apakah teman-teman pekerja migran Indonesia cukup paham terkait
               demonstrasi anti RUU Ekstradisi di Hong Kong?

               Nah ini dia. Awalnya enggak. Sama sekali mereka nggak tahu apa yang terjadi di
               Hong Kong. Mereka hanya tahu ada demo. Itu tok, wes. Tapi mereka nggak paham
               banget itu tuh ada isu apa, terus kenapa, dan sebagainya. Karena dari sini pihak
               Indonesia, KJRI di sana, dalam artian sebagai pemerintah, dia tidak pernah
               mendidik atau memberi tahu kepada pekerja rumah tangga migran yang ada di





                                                      Page 166 of 176.
   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172